Jumat, 22 November 2013

Hadis Relisasi Iman dalam kehidupan sosial


BAB I
PENDAHULUAN

Sudah menjadi keyakinan bahwa sumber utama syari’at Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadist. Selain yang telah di tegaskan al-Qur’an sendiri, juga dalam berbagai hadis Rasulullah menuntun agar umat islam berpegang teguh kepada ke dua sumber tersebut.
Sejalan dengan perkembangan waktu, umat manusia juga menghadapi berbagai permasalahan yang harus di sikapi dan di jalankan dengan baik. Maka bagi umat islam, permasalahan yang timbul kapan dan di manapun maka harus di kembalikan kepada pegangan hidup mereka yang telah di tetapkan, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Dan oleh sebab itu, kami sebagai pemakalah ingin memaparkan apa-apa saja sikap yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita. begitupun dalam kehidupan sehari-hari karna sesungguhnya begitu banyak penerapan- penerapan hadis yang di ajarkan Rasullullah . kita sebagai umat muslim patut untuk mencontoh jejak-jejak rasullullah Saw, dan dengan begitu maka kita pantas di katakan sebagai umat Nabi saw.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Realisasi Iman Dalam Kehidupan Sosial
1.      Hadis cinta sesama muslim
a.       Dari Anas bin Malik r.a  dari Nabi saw  yang bersabda:
لاَ يُؤ منُ أَحَدُ كُمْ حَتّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.[1] ( روا ه البخا رى و مسلم )

Artinya: “Salah seorang dari kalian tidak beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya ” ( Di riwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Redaksi Muslim sebagai berikut:

لاَ يُؤْ مِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّي يُحِبَّ لِجَارَهِ أَوْ لِأَ خِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه                                              

Artinya: “Tidaklah beriman di antara kalian hingga ia mencintai untuk tetangganya atau saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”

لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ الإِيْمَا نِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ .                                    

Artinya : “seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman hingga ia    mencintai kebaikan untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya sendiri.[2]”(di riwayatkan Imam Ahmad)

b.      Tinjauan Bahasa
Mencintai merupakan masdarnya dari                     يُحِب         :    
(الْمَحَبَّةُ ), sering digunakan yang berarti : kecenderungan terhadap sesuatu yang ada pada orang yang di cintai
Saudara, tetapi maksud saudara pada hadis di atas adalah saudara seiman dan seislam.
c.       Makna Hadits secara umum
            Di antara sifat iman yang wajib ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
            Namun dengan demikian, hadits tersebut bukan berarti dapat di artikan bahwa seorang mukmin yang tidak mencintai mukmin lainnya dapat di katakan juga tidak beriman. Karena maksud pernyataanلاَ يُؤْ مِنُ أَ حَدُ كُمْ  pada hadis di atas “ tidak sempurna keimanan seseorang,” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Jadi, huruf nafi لاَ  pada hadis tersebut berhubungan dengan ketidaksempurnaan.
            Dalam hadits lain juga ada menyebutkan betapa pentingnya memiliki sifat tersebut, bahkan Nabi saw menomerkan masuk surga bagi orang yang memilikinya. Sebagaimana dalam hadis berikut ini:
عَنْ اَنَس رَضيَ ا اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  قَا لَ : ثَلاَ ث مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَ وَ ةَ ا لإِ يمَا نِ :
أَنْ يَكُوْ نَ اللهُ وَرَسُول لهُ أَ حَبَّ إلَيهِ مِمَّا سِوَا هُمَا , وَ اَنْ يُحِبُّهُ إلأَ  للهِ, وَاَنْ يَكْرَ هَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْر كَمَا يَكْرهُ
 أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.                                                                                                       
Artinya: DiriwayatkandariAnasr.a.: Nabi Saw. Pernah bersabda, “siapapun yang memiliki tiga kualitas berikut akan memperoleh kelezatan iman:
1.      Orang yang mencintai Allah AzzaWaJalla dan Rasul-nya (Muhammad Saw) melebihiapapun.
2.      Orang yang mencintai orang lainsemata-matakarena Allah swt.
3.      Orang yang membenci kekafiran sebagaimana ia membenci dimasukkan kedalam api neraka.[3]
Imam Ahmad meriwayatkan Hadits dari Muadz bin Jabal bahwa ia bertanya kepada Nabi saw  tentang iman yang paling utama kemudian beliau bersabda,“Iman yang paling utama ialah engkau mencintai dan membenci karena Allah dan menggunakan lidahmu dalam dzikir kepada Allah.” Muadz bin Jabal berkata “Apa lagi, wahai Rasullullah?” Rasullullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “ Engkau cintai untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu, membenci untuk mereka apa yang engkau benci untuk dirimu, dan berkata dengan benar, atau diam.”[4]
            Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan hadis dari yazid bin Asad Al-Qasri yang berkata, Rasullullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam berkata kepadaku,“ Apakah engkau ingin masuk surga?” Aku menjawab, “ya” Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Cintailah untuk saudaramu apa yang engkau cintai untuk dirimu.”[5]
d.      Fiqh Al-Hadits
Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin adalah mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu direalisasikan dalam kehidupannya sehari-hari dengan berusaha untuk menolong dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaan saudaranya seiman yang di dasarkan atas keimanan yang teguh kepada Allah swt. Dia tidak berpikir panjang untuk menolong saudaranya sekalipun sesuatu yang diperlukan saudaranya benda yang paling ia cintai.
2.      Hadits muslim tidak mengganggu orang lain
a.       Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  . قَا ل : الْمُسلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ ,وَ الْمُهَا جِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ .
Artinya: “Abdullah Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda[6] “ seorang muslim adalah yang orang musim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangannya dan orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah dilarang Allah Swt.” ( H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa’i )[7]
            Di riwayatkan dari Rasulullah, beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling baik itu?” Beliau menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan perbuatan tangannya.’
Selain hadis yang di atas terdapat pula riwayat lain dari jabir, Abu Musa dan Abdullah bin Amru.
Artinya: Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Buraidah bin Abdullah bin Abu Burdah, dari kakeknya, Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwasanya Nabi saw pernah ditanya, “kaum muslimin mana yang paling afdhal?” beliau menjawab, “ yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”[8]

Shahih: Muttafaq alaih
b.      Tinjauan Bahasa
Menyelamatkan سَلِمَ  :                                     
Berpindah      هَجَرَ :                                                
Melarang نَهَى :                                                 
c.       Makna hadits secara umum
Hadits di atas mengandung dua pokok pembahasan, yakni tentang hakikat seorang muslim , dalam membina hubungan sesama muslim dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menjelaskan hakikat hijrah dalam pandangan islam.
Orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat telah tergolong muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak di sukai olehnya.
Dengan tidak mengganggu orang lain juga merupakan bentuk berakhlak mulia dan merupakan perbuatan iman yang paling utama, yaitu dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagaimana ada hadis yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam’an Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُق. وَالإِثْمُ مَاحَاكَ فِي صَدْركَ وَ كَرِهْتَ أَنْ يَطَّلعَ عَلَيْهِ النَّا سُ
           
Artinya :“Kebaikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah apa saja yang menggoncangkan jiwamu dan engkau tidak suka manusia melihatnya.” (Diriwayatkan Muslim)
            Terkadang yang di maksud dengan akhlak yang baik adalah berakhlak dengan akhlak syari’at dan beretika dengan etika-etika Allah di mana dia mendidik hamba-hamba-nya denganya di Al-Qu’an seperti yang di firmankan Allah:
وَ اِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمٍ    
Artinya :“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4)
Aisyah Radhiallahu Anha berkata, “ Akhlak Nabi Saw adalah A-Qur’an.” Maksudnya, Nabi S.a.w. beretika dengan etika-etika Al-Qur’an kemudian mengerjakan apa saja yang diperintahkan Al-Qur’an dan menjauhi apa saja yang di larangnya[9]. Jadi, mengamalkan Al-Qur’an itu seperti akhlak layaknya watak yang tidak terpisahkan. Ini termaksud akhlak yang paling mulia dan paling indah.
Oleh karena itu, Allah menamakan apa saja yang ia perintahkan sebagai kebaikan dan apa saja yang menjadi larangannya  sebagai kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya Allah menyuruhku berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (An-Nahl: 90).
Allah juga menjelaskan bahwa hati kaum mukminin tentram dengan dzikir kepada-Nya.[10] Jadi, hati yang di masuki cahaya iman dan senang dengannya itu tentram dengan kebenaran, damai dengannya, menerimanya, lari dari kebathilan, membencinya dan tidak menerimanya.
Hijrah juga dapat diartikan sebagai perjalanan panjang untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dapat juga diartikan sebagai perjalanan panjang untuk mendapatkan Ridhanya. Dan untuk menempuh suatu perjalanan maka di perlukan bekal yang cukup. Bekal tersebut dalam islam adalah aqidah yang kuat.[11]
d.      Fiqh Al-Hadis
Di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah tidak mau menyakiti saudaranya seiman. Selain itu, ia juga berusaha untuk berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada perbuatan-perbuatan yang di Ridhai-nya.
3.      Hadits menghadapi tamu, tetangga dan cara bertutur kata
a.       Dari Abu Hurairah R.a dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam yang bersabda:
     
عَن أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عنه اَنْهُ قَا ل : قَال رَسُولُ اللهِ صلي الله عَلَيه وَسَلَمْ : مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَلْيُكْرمْ ضَيْفَهُ , وَ مَنْ كَا نَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَاْليَوْ مِ اْلأ خِرِفَليُحْسِنْ اِلَى إِلَى جَارِهِ , وَ مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَ اْليَوْمِ الأَ خِرِ فَلْيَقُلْ خَيْر. ( اَخْرَجَهُ الشَّيْخَان وابن مَاجَه )                                

Artinya: Dari abu Huraira r.a. Ia berkata bahwa Rasulullah Saw. Bersabda,“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus memuliakan tamunya, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus berbuat baik kepada tetangganya, Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus berkata baik atau diam.(H.R, Bukhari dan Muslim dan Ibnu Majah).
            Hadits di atas diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari banyak jalur dari Abu Hurairah. Di sebagian redaksinya disebutkan, “maka ia jangan menyakiti tetangganya. ”Di sebagian redaksi lainnya disebutkan[12], “hendaklah ia baik dalam memuliakan tamunya.” Di sebagian redaksinya yang lain disebutkan, “hendaklah ia menyambung kerabatnya,” menggantikan penyebutan tetangga.
b. Tinjauan Bahasa
                        Memuliakan يُكْرِ م        :                            
                        Tamu     ضَيْفٌ        :                                        
                        Membuat kebaikan  يُحْسِنُ       :                    
                        Tetanggaجَا رٌ       :                                     
                        Diam (tidak berbicara)يُصْمِتُ     :                
c. Makna hadits secara umum
Dari hadis yang pertama di atas, itu dapat kita simpulkan ada tiga perkara yang dapat kita simpulkan yang di dasarkan keimanan kepada Allah dan hari akhir, yakni memuliakan tamu, memuliakan tetangga dan berbicara baik atau diam.
1.      Memuliakan tamu
Dalam maksud memuliakan tamu dalam hadis di atas baik perseorangan maupun kelompok tentu saja harus berdasarkan kemampuan dan bukan riya’.
Di antara hal-hal yang harus di perhatikan dalam memuliakan tamu adalah memberikan sambutan yang hangat. Ini lebih baik dari pada di berikan hidangan yang mahal-mahal, tetapi dengan muka yang kasam atau kecut.
Apabila tamu yang datang hanya bermaksud meminta tolong tentang suatu masalah atau kesulitan, maka bantulah semampu yang kita bisa.
2.      Memuliakan tetangga
Maksud tetangga di sini itu umum, baik yang dekat maupun jauh, muslim, kafir, ahli ibadah, musuh dan lain-lain. Namun demikian dalam memuliakan mereka, terdapat tingkatan antara antara satu tetangga dengan yang lainnya.
Selain itu di haruskan pula menjaga mereka dari ancaman gangguan dan bahaya.
Sebagaimana dalam hadits:
عَنْ أَ بِي شُرَيْحِ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ قَا لَ : إِنَّ النَّبِيِّ ِ صلى الله عليه وسلم  قَا لَ : (وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ , وَ اللهِ لاَ يُؤْ مِنُ , وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ ). قِيْلَ : وَ مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَا لَ : ( الَّذِ ي لاَ يَأ مَنُ جَا رُهُ بَوَا ئقَهُ ).                          
Artinya: Diriwayatkan dari Abu syuraih r.a,: Nabi Saw . pernah bersabda, “Demi Allah! Dia tidak beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman!” seseorang bertanya, “ siapa ya Rasulullah?” Nabi Saw. Bersabda “ Orang yang membuat tetangganya merasa tidak aman dari kejahatan-nya.” [13]
Dalam hadits lainnya yang di riwayatkan oleh Aisyah.
عَنْ عَا ئَشَةَ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهَا , عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  قَا لَ : (مَا زَالَ جِبْر يْلُ يُو صِينِي بِالجَا رِ  حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَ رِّث
Artinya: Di riwayatkan dari Aisyah r.a,: Nabi Saw pernah bersabda, “ jibril menganjurkan aku bersikap baik terhadap tetangga sedemikian rupa sehingga aku berpikir dia menyuruhku menjadikan mereka sebagai ahli warisku.          
Di antara akhlak terpenting terpentng terhadap tetangga adalah:
1.      Menyampaikan ucapan selamat ketika tetangga sedang bahagia
2.      Menjenguknya takkala sakit
3.      Bertakziah ketika ada keluarganya yang meninggal
4.      Menolongnya ketika ia memohon pertolongan
5.      Memberikan nasehat dalam beberapa urusan dengan yang cara yang ma’ruf.[14]
3.      Berbicara baik atau diam
Perbuatan-perbuatan iman terkadang terkait dengan hak-hak Allah, seperti mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang di haramkan.Termasuk dalamcakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang baikdan diam dari yang jelek.[15]
Di sebutkan dalam hadits bahwa lidah yang lurus termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad[16] dari Anas bin Malik r.a dari Nabi Saw bersabda :
“Iman seseorang tidak lurus hingga hatinya lurus dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”[17]
Dalam sabda Nabi Saw, “hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam,” adalah perintah untuk berkata baik dan diam dari keburukan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perkataan yang sama kalau di ucapkan dan tidak di ucapkan. Namun bisa jadi perkataan itu baik, karenanya, diperintahkan di ucapkan. Dan bisa jadi, perkataa itu tidak baik, karenanya, di perintahkan tidak di ucapkan.
d.      Fiqh Al-Hadis
Untuk kesempurnaan iman dan sebagai salah satu tanda keimanan kepada Allah Swt, dan hari akhir, seorang mukmin harus memuliakan tetangga, tamu,dan berkata baik atau diam.     
B.      Kesimpulan
1.      Di antara sifat iman yang wajib ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
2.      Di riwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling baik itu?” Beliau menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan perbuatan tangannya.’
Untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak di sukai olehnya. Selain itu, ia juga berusaha untuk berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada perbuatan-perbuatan yang di Ridhai-nya.
3.      Termasuk dalam cakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang baik dan diam dari yang jelek.[18]
      Di sebutkan dalam hadis bahwa lidah yang lurus termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad dari Anas bin Malik r.a dari Nabi saw yang bersabda :
“Iman seseorang tidak lurus hingga hatinya lurus dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”
  

DAFTAR PUSTAKA

Az-Zabidi,Imam. Mukhtasar Shahih Bukhari,  Selangor Malaysia: PERCETAKAN               ZAFAR, 2004.
Nashiruddin Al-Albani,Muhammad. Shahih Sunan Tirmidzi, Jakarta: Puataka Azzam,
            2007.
Rajab,Ibnu. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-  Nawawi.  Jakarta: Darul Falah, 2002.
Syafe’i,Rachmat. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum,(Bandung: Pustaka Setia, 2000



[1] .Di riwayatkan al-Bukhari  hadist Nomor: 13, Muslim Nomor: 45, Imam Ahmad 2/176, 251, 272, 289, at-Tarmizi Hadis Nomor: 5215, Ibnu Majah hadist Nomor:66, dan an-Nasa`I 8/115, Hadist tersebut di shahihkan Ibu Hibban Hadist Nomor:234 dan 235.
[2]  Dari Abu Hurairah, Hadist tersebut di riwayatkan Imam Ahmad 2/376, Al-Bukhari hadist nomor:2475, dan Muslim hadist no 57.
[3]Imam Az-Zabidi. Mukhtasar Shahih Bukhari, (Selangor Malaysia: PERCETAKAN ZAFAR, 2004). Hlm. 12-13.

[4]Diriwayatkan Imam Ahmad 5/247 dan di sanadnya terdapat Zuban bin Faid dan Ibnu Lahi’ah yang keduanya merupakan perawi dhaif
[5]Diriwayatkan Imam Ahmad di al-Musnad 4/70. Hadis tersebut juga diriwayatkan Al-Hakim 4/168 dan menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadis tersebut mempunyai penguat yaitu hadis Abu Hurairah yang di riwayatkan Imam Ahmad 2/310 dan At-Tirmidzi hadis nomer 2305.
[6] Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum


[8]Muhammad  Nashiruddin Al-Albani. Shahih Sunan Tirmidzi, (Jakarta: Puataka Azzam, 2007).hlm. 64-65.
[9] Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi . ( Jakarta: Darul Falah, 2002 ).Hlm. 588-589

[10] Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum., hlm.44.


[12] Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum., hlm.45.
[13]Imam Az-Zabidi. Mukhtasar Shahih Bukhari .Hlm. 849-850.
[14]Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum. Hlm.48-49
[15]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.
[16] Al-Musnad 3/198, di sanadnya terdapat perawi Ali bin Maidah yang merupakan perawi dhaif.
[17]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi. Hlm.291.
[18]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar