BAB I
PENDAHULUAN
Sudah menjadi keyakinan
bahwa sumber utama syari’at Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadist. Selain yang
telah di tegaskan al-Qur’an sendiri, juga dalam berbagai hadis Rasulullah
menuntun agar umat islam berpegang teguh kepada ke dua sumber tersebut.
Sejalan dengan
perkembangan waktu, umat manusia juga menghadapi berbagai permasalahan yang
harus di sikapi dan di jalankan dengan baik. Maka bagi umat islam, permasalahan
yang timbul kapan dan di manapun maka harus di kembalikan kepada pegangan hidup
mereka yang telah di tetapkan, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Dan oleh sebab itu,
kami sebagai pemakalah ingin memaparkan apa-apa saja sikap yang harus kita
terapkan dalam kehidupan kita. begitupun dalam kehidupan sehari-hari karna
sesungguhnya begitu banyak penerapan- penerapan hadis yang di ajarkan
Rasullullah . kita sebagai umat muslim patut untuk mencontoh jejak-jejak
rasullullah Saw, dan dengan begitu maka kita pantas di katakan sebagai umat
Nabi saw.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Realisasi Iman Dalam
Kehidupan Sosial
1. Hadis cinta sesama
muslim
a. Dari Anas bin Malik r.a
dari Nabi saw yang
bersabda:
لاَ يُؤ منُ أَحَدُ كُمْ حَتّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ.[1]
( روا ه البخا رى و مسلم )
Artinya: “Salah seorang dari kalian tidak
beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya ”
( Di riwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Redaksi Muslim sebagai
berikut:
لاَ يُؤْ مِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّي يُحِبَّ لِجَارَهِ
أَوْ لِأَ خِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه
Artinya: “Tidaklah
beriman di antara kalian hingga ia mencintai untuk tetangganya atau saudaranya
apa yang ia cintai untuk dirinya.”
لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ الإِيْمَا نِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا
يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ .
Artinya : “seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman hingga ia mencintai kebaikan untuk manusia seperti
yang ia cintai untuk dirinya sendiri.[2]”(di
riwayatkan Imam Ahmad)
b. Tinjauan Bahasa
Mencintai merupakan masdarnya
dari يُحِب :
(الْمَحَبَّةُ ), sering digunakan yang
berarti : kecenderungan terhadap sesuatu yang ada pada orang yang di cintai
Saudara, tetapi maksud
saudara pada hadis di atas adalah saudara seiman dan seislam.
c. Makna Hadits secara umum
Di antara sifat iman yang wajib
ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk
dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika
sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
Namun dengan demikian, hadits
tersebut bukan berarti dapat di artikan bahwa seorang mukmin yang tidak
mencintai mukmin lainnya dapat di katakan juga tidak beriman. Karena maksud
pernyataanلاَ يُؤْ مِنُ أَ حَدُ كُمْ pada hadis di atas “ tidak sempurna keimanan
seseorang,” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.
Jadi, huruf nafi لاَ pada hadis tersebut berhubungan dengan
ketidaksempurnaan.
Dalam hadits lain juga ada
menyebutkan betapa pentingnya memiliki sifat tersebut, bahkan Nabi saw
menomerkan masuk surga bagi orang yang memilikinya. Sebagaimana dalam hadis
berikut ini:
عَنْ اَنَس رَضيَ ا اللهُ عَنْهُ عَنِ
النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَا لَ :
ثَلاَ ث مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَ وَ ةَ ا لإِ يمَا نِ :
أَنْ يَكُوْ نَ اللهُ وَرَسُول لهُ أَ حَبَّ إلَيهِ مِمَّا
سِوَا هُمَا , وَ اَنْ يُحِبُّهُ إلأَ
للهِ, وَاَنْ يَكْرَ هَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْر كَمَا يَكْرهُ
أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
Artinya: DiriwayatkandariAnasr.a.: Nabi Saw. Pernah bersabda, “siapapun yang memiliki tiga kualitas berikut
akan memperoleh kelezatan iman:
1. Orang yang mencintai Allah AzzaWaJalla dan
Rasul-nya (Muhammad Saw) melebihiapapun.
2. Orang yang mencintai orang lainsemata-matakarena
Allah swt.
3. Orang yang membenci kekafiran sebagaimana ia
membenci dimasukkan kedalam api neraka.[3]
Imam Ahmad meriwayatkan Hadits dari Muadz bin Jabal
bahwa ia bertanya kepada Nabi saw tentang iman yang paling utama kemudian beliau
bersabda,“Iman yang paling utama ialah engkau mencintai dan membenci karena
Allah dan menggunakan lidahmu dalam dzikir kepada Allah.” Muadz bin Jabal
berkata “Apa lagi, wahai Rasullullah?” Rasullullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda, “ Engkau cintai untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu,
membenci untuk mereka apa yang engkau benci untuk dirimu, dan berkata dengan
benar, atau diam.”[4]
Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan
hadis dari yazid bin Asad Al-Qasri yang berkata, Rasullullah Shalallahu Alaihi
Wa Sallam berkata kepadaku,“ Apakah engkau ingin masuk surga?” Aku menjawab,
“ya” Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Cintailah untuk
saudaramu apa yang engkau cintai untuk dirimu.”[5]
d. Fiqh Al-Hadits
Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin
adalah mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu
direalisasikan dalam kehidupannya sehari-hari dengan berusaha untuk menolong
dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaan saudaranya seiman yang di dasarkan
atas keimanan yang teguh kepada Allah swt. Dia tidak berpikir panjang untuk
menolong saudaranya sekalipun sesuatu yang diperlukan saudaranya benda yang
paling ia cintai.
2. Hadits muslim tidak mengganggu
orang lain
a.
Dari Abdullah bin Umar
dari Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم . قَا ل : الْمُسلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ ,وَ الْمُهَا جِرُ مَنْ
هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ .
Artinya: “Abdullah Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah
Saw bersabda[6]
“ seorang muslim adalah yang orang musim lainnya merasa selamat dari lisan dan
tangannya dan orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah
dilarang Allah Swt.” ( H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa’i )[7]
Di riwayatkan dari Rasulullah,
beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling baik itu?” Beliau
menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya selamat dari lisan
dan perbuatan tangannya.’
Selain hadis yang di atas terdapat pula riwayat
lain dari jabir, Abu Musa dan Abdullah bin Amru.
Artinya: Ibrahim bin
Sa’id Al-Jauhari menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami,
dari Buraidah bin Abdullah bin Abu Burdah, dari kakeknya, Abu Burdah, dari Abu
Musa Al-Asy’ari bahwasanya Nabi saw pernah ditanya, “kaum muslimin mana yang
paling afdhal?” beliau menjawab, “ yang kaum muslimin lainnya selamat dari
lisan dan tangannya.”[8]
Shahih: Muttafaq alaih
b. Tinjauan Bahasa
Menyelamatkan سَلِمَ :
Berpindah هَجَرَ :
Melarang نَهَى :
c. Makna hadits secara umum
Hadits di atas mengandung dua pokok pembahasan,
yakni tentang hakikat seorang muslim , dalam membina hubungan sesama muslim
dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menjelaskan hakikat hijrah dalam
pandangan islam.
Orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat telah
tergolong muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi),
ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Islam, tanpa
memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak di sukai olehnya.
Dengan tidak mengganggu orang lain juga merupakan
bentuk berakhlak mulia dan merupakan perbuatan iman yang paling utama, yaitu
dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagaimana ada hadis yang diriwayatkan oleh
An-Nawwas bin Sam’an Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda :
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُق. وَالإِثْمُ مَاحَاكَ فِي
صَدْركَ وَ كَرِهْتَ أَنْ يَطَّلعَ عَلَيْهِ النَّا سُ
Artinya :“Kebaikan
ialah akhlak yang baik dan dosa ialah apa saja yang menggoncangkan jiwamu dan
engkau tidak suka manusia melihatnya.” (Diriwayatkan Muslim)
Terkadang yang di maksud dengan
akhlak yang baik adalah berakhlak dengan akhlak syari’at dan beretika dengan
etika-etika Allah di mana dia mendidik hamba-hamba-nya denganya di Al-Qu’an
seperti yang di firmankan Allah:
وَ اِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Artinya :“Dan
sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4)
Aisyah Radhiallahu Anha berkata, “ Akhlak Nabi
Saw adalah A-Qur’an.” Maksudnya, Nabi S.a.w. beretika dengan etika-etika
Al-Qur’an kemudian mengerjakan apa saja yang diperintahkan Al-Qur’an dan
menjauhi apa saja yang di larangnya[9].
Jadi, mengamalkan Al-Qur’an itu seperti akhlak layaknya watak yang tidak
terpisahkan. Ini termaksud akhlak yang paling mulia dan paling indah.
Oleh karena itu, Allah menamakan apa saja yang ia
perintahkan sebagai kebaikan dan apa saja yang menjadi larangannya sebagai kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman
dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya Allah menyuruhku berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan.” (An-Nahl: 90).
Allah juga menjelaskan bahwa hati kaum mukminin
tentram dengan dzikir kepada-Nya.[10]
Jadi, hati yang di masuki cahaya iman dan senang dengannya itu tentram dengan
kebenaran, damai dengannya, menerimanya, lari dari kebathilan, membencinya dan
tidak menerimanya.
Hijrah juga dapat diartikan sebagai perjalanan
panjang untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dapat juga diartikan sebagai
perjalanan panjang untuk mendapatkan Ridhanya. Dan untuk menempuh suatu
perjalanan maka di perlukan bekal yang cukup. Bekal tersebut dalam islam adalah
aqidah yang kuat.[11]
d. Fiqh Al-Hadis
Di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah
tidak mau menyakiti saudaranya seiman. Selain itu, ia juga berusaha untuk
berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada
perbuatan-perbuatan yang di Ridhai-nya.
3. Hadits menghadapi
tamu, tetangga dan cara bertutur kata
a.
Dari Abu Hurairah R.a
dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam yang bersabda:
عَن أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عنه اَنْهُ قَا ل : قَال رَسُولُ اللهِ صلي
الله عَلَيه وَسَلَمْ : مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَلْيُكْرمْ
ضَيْفَهُ , وَ مَنْ كَا نَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَاْليَوْ مِ اْلأ خِرِفَليُحْسِنْ
اِلَى إِلَى جَارِهِ , وَ مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَ اْليَوْمِ الأَ خِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْر. ( اَخْرَجَهُ الشَّيْخَان وابن مَاجَه )
Artinya: “Dari abu Huraira r.a. Ia berkata
bahwa Rasulullah Saw. Bersabda,“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, ia harus memuliakan tamunya, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, ia harus berbuat baik kepada tetangganya, Dan barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, ia harus berkata baik atau diam.(H.R, Bukhari dan
Muslim dan Ibnu Majah).
Hadits di atas diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari banyak jalur dari Abu Hurairah. Di
sebagian redaksinya disebutkan, “maka ia jangan menyakiti tetangganya. ”Di
sebagian redaksi lainnya disebutkan[12],
“hendaklah ia baik dalam memuliakan tamunya.” Di sebagian redaksinya yang lain disebutkan, “hendaklah ia menyambung kerabatnya,” menggantikan penyebutan tetangga.
b. Tinjauan Bahasa
Memuliakan يُكْرِ م :
Tamu ضَيْفٌ
:
Membuat kebaikan يُحْسِنُ
:
Tetanggaجَا رٌ :
Diam (tidak berbicara)يُصْمِتُ :
c. Makna hadits secara umum
Dari hadis yang pertama di atas, itu dapat kita
simpulkan ada tiga perkara yang dapat kita simpulkan yang di dasarkan keimanan
kepada Allah dan hari akhir, yakni memuliakan tamu, memuliakan tetangga dan
berbicara baik atau diam.
1.
Memuliakan tamu
Dalam maksud memuliakan tamu dalam hadis di atas
baik perseorangan maupun kelompok tentu saja harus berdasarkan kemampuan dan
bukan riya’.
Di antara hal-hal yang harus di perhatikan dalam
memuliakan tamu adalah memberikan sambutan yang hangat. Ini lebih baik dari
pada di berikan hidangan yang mahal-mahal, tetapi dengan muka yang kasam atau
kecut.
Apabila tamu yang datang hanya bermaksud meminta
tolong tentang suatu masalah atau kesulitan, maka bantulah semampu yang kita
bisa.
2.
Memuliakan tetangga
Maksud tetangga di sini itu umum, baik yang dekat
maupun jauh, muslim, kafir, ahli ibadah, musuh dan lain-lain. Namun demikian
dalam memuliakan mereka, terdapat tingkatan antara antara satu tetangga dengan
yang lainnya.
Selain itu di haruskan pula menjaga mereka dari
ancaman gangguan dan bahaya.
Sebagaimana dalam hadits:
عَنْ أَ بِي شُرَيْحِ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ
قَا لَ : إِنَّ النَّبِيِّ ِ صلى الله عليه وسلم قَا لَ : (وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ , وَ اللهِ لاَ
يُؤْ مِنُ , وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ ). قِيْلَ : وَ مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَا
لَ : ( الَّذِ ي لاَ يَأ مَنُ جَا رُهُ بَوَا ئقَهُ ).
Artinya: Diriwayatkan
dari Abu syuraih r.a,: Nabi Saw . pernah bersabda, “Demi Allah! Dia tidak
beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman!”
seseorang bertanya, “ siapa ya Rasulullah?” Nabi Saw. Bersabda “ Orang yang
membuat tetangganya merasa tidak aman dari kejahatan-nya.” [13]
Dalam hadits lainnya yang di riwayatkan oleh Aisyah.
عَنْ عَا ئَشَةَ رَ
ضِيَ اللهُ عَنْهَا , عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَا لَ : (مَا زَالَ جِبْر يْلُ يُو صِينِي
بِالجَا رِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ
سَيُوَ رِّث
Artinya: Di riwayatkan
dari Aisyah r.a,: Nabi Saw pernah bersabda, “ jibril menganjurkan aku bersikap
baik terhadap tetangga sedemikian rupa sehingga aku berpikir dia menyuruhku
menjadikan mereka sebagai ahli warisku.
Di antara akhlak
terpenting terpentng terhadap tetangga adalah:
1.
Menyampaikan ucapan
selamat ketika tetangga sedang bahagia
2.
Menjenguknya takkala
sakit
3.
Bertakziah ketika ada
keluarganya yang meninggal
4.
Menolongnya ketika ia memohon
pertolongan
5.
Memberikan nasehat
dalam beberapa urusan dengan yang cara yang ma’ruf.[14]
3.
Berbicara baik atau
diam
Perbuatan-perbuatan iman terkadang terkait dengan hak-hak
Allah, seperti mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang di
haramkan.Termasuk dalamcakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang
baikdan diam dari yang jelek.[15]
Di sebutkan dalam hadits bahwa lidah yang lurus
termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad[16]
dari Anas bin Malik r.a dari Nabi Saw bersabda :
“Iman seseorang tidak lurus hingga hatinya lurus
dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”[17]
Dalam sabda Nabi Saw, “hendaklah ia berkata baik
atau hendaklah ia diam,” adalah perintah untuk berkata baik dan diam dari
keburukan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perkataan yang sama kalau di ucapkan
dan tidak di ucapkan. Namun bisa jadi perkataan itu baik, karenanya,
diperintahkan di ucapkan. Dan bisa jadi, perkataa itu tidak baik, karenanya, di
perintahkan tidak di ucapkan.
d.
Fiqh Al-Hadis
Untuk kesempurnaan iman dan sebagai salah satu
tanda keimanan kepada Allah Swt, dan hari akhir, seorang mukmin harus
memuliakan tetangga, tamu,dan berkata baik atau diam.
B. Kesimpulan
1.
Di antara sifat iman
yang wajib ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia
cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya
sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
2.
Di riwayatkan dari
Rasulullah Saw, beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling
baik itu?” Beliau menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya
selamat dari lisan dan perbuatan tangannya.’
Untuk dikatakan muslim
yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan
ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak
di sukai olehnya. Selain itu, ia juga berusaha untuk berhijrah (pindah) dari
melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada perbuatan-perbuatan
yang di Ridhai-nya.
3.
Termasuk dalam cakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang baik dan diam dari yang jelek.[18]
Di sebutkan dalam hadis bahwa lidah yang
lurus termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad dari Anas
bin Malik r.a dari Nabi saw yang bersabda :
“Iman seseorang tidak
lurus hingga hatinya lurus dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”
DAFTAR PUSTAKA
Az-Zabidi,Imam. Mukhtasar Shahih Bukhari, Selangor Malaysia: PERCETAKAN ZAFAR, 2004.
Nashiruddin Al-Albani,Muhammad. Shahih
Sunan Tirmidzi, Jakarta: Puataka Azzam,
2007.
Rajab,Ibnu. PANDUAN ILMU &
HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-
Nawawi. Jakarta: Darul Falah,
2002.
Syafe’i,Rachmat. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum,(Bandung:
Pustaka Setia, 2000
[1]
.Di riwayatkan
al-Bukhari hadist Nomor: 13, Muslim
Nomor: 45, Imam Ahmad 2/176, 251, 272, 289, at-Tarmizi Hadis Nomor: 5215, Ibnu
Majah hadist Nomor:66, dan an-Nasa`I 8/115, Hadist tersebut di shahihkan Ibu
Hibban Hadist Nomor:234 dan 235.
[2]
Dari Abu Hurairah, Hadist tersebut di riwayatkan Imam Ahmad 2/376,
Al-Bukhari hadist nomor:2475, dan Muslim hadist no 57.
[3]Imam Az-Zabidi. Mukhtasar Shahih Bukhari, (Selangor Malaysia:
PERCETAKAN ZAFAR, 2004). Hlm. 12-13.
[4]Diriwayatkan Imam Ahmad 5/247 dan di sanadnya terdapat Zuban bin Faid dan
Ibnu Lahi’ah yang keduanya merupakan perawi dhaif
[5]Diriwayatkan Imam Ahmad di al-Musnad 4/70. Hadis tersebut juga diriwayatkan
Al-Hakim 4/168 dan menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadis tersebut
mempunyai penguat yaitu hadis Abu Hurairah yang di riwayatkan Imam Ahmad 2/310
dan At-Tirmidzi hadis nomer 2305.
[6]
Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan
Hukum
[8]Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Shahih
Sunan Tirmidzi, (Jakarta: Puataka Azzam, 2007).hlm. 64-65.
[9]
Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU & HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain-
An-Nawawi . ( Jakarta: Darul Falah, 2002 ).Hlm. 588-589
[10]
Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan
Hukum., hlm.44.
[12]
Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan
Hukum., hlm.45.
[14]Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum.
Hlm.48-49
[15]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &
HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.
[16]
Al-Musnad 3/198, di sanadnya
terdapat perawi Ali bin Maidah yang merupakan perawi dhaif.
[18]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &
HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar