Syariah Law
Penjara adalah harapanku, Mati syahid adalah cita-citaku.
Senin, 24 Maret 2014
Jumat, 22 November 2013
Ilmu Budaya Dasar, Islam dan Harapan
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang menjadikan bumi beserta isinya dengan begitu sempurna dan atas
limpahan rahmat, taufiq serta hidayah – Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
dengan mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul “ Islam dan Harapan ” untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya
Dasar.
Ucapan
terima kasih dan rasa hormat kami kepada semua pihak yang telah membantu
Penulis dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan
bahwa tiada makalah yang sempurna tanpa uluran tangan pemerhatinya. Oleh karena
itu, kritik serta saran sangat kami harapkan dari pembaca sekalian yang
bersifat membangun, agar demi lebih baiknya kinerja kami yang akan mendatang.
Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan informasi
yang bermanfaat bagi semua pihak.
Hormat
Kami,
Tim
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang ajarannya
berasal dari wahyu Allah SWT dan diturunkan kepada manusia melalui utusannya,
Nabi Muhammad SAW. Pada hakekatnya, Islam membawa ajaran ajaran tentang semua
aspek kehidupan manusia, bukan menitik beratkan pada salah satu aspek saja.
Sumber ajaran Islam adalah al-Qur'an dan Hadis.
Sumber ajaran Islam pertama,
al-Qur'an, dalam faham dan keyakinan umat Islam, berisi firman Allah yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui wahyu untuk disebarkan dan
dijadikan pedoman hidup bagi umat manusia. Hadis sebagai sumber kedua dari
ajaran Islam adalah ucapan, perbuatan atau persetujuan dari Nabi Muhammad SAW.
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan berarti manusia
itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai
harapan,biasanya berupa pesan-pesankepada ahli warisnya.Harapan bergantung paa
pengetahuan,pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.
Berhasil atau
tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai
harapan.Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri
sendiri,maupun kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa. Agar
harapanterwujud,maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Bila dibandingkan
dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu
muluk,sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintar. Antara harapan dan cita-cita
terdapat persamaan yaitu : keduanya menyangkut masa depan karena belum
terwujud.
Harapan dan rasa
optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan. Seolah
kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah. Orang yang hidup
tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk
bersikap pasif, Oleh karena itu dalam makalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam
tentang manusia dan harapan.
BAB
II
PEMBAHASAN
ISLAM DAN
HARAPAN
A.
ISLAM
Islam adalah agama yang haq dan
diridhai Allah SWT, diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW yang dipilih sebagai
rasul-Nya yang terakhir. Ajaran atau petunjuk Alloh SWT yang disebut agama
Islam itu, terhimpun secara lengkap dan sempurna di dalam Al-Quran sebagai mana
difirmankan melalui surat Ali Imran ayat 138 yang artinya sebagai berikut:
“Al-Quran itu adalah penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk serta pelajaran
bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Islam adalah agama yang telah diturunkan oleh
Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang merupakan seorang Nabi dan Rasul
terakhir kepada seluruh alam dan tiada yang terkecuali darinya. Sejak Allah SWT
menciptakan manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s. dan isterinya Hawa, manusia
telah berkembang dari keduanya sehinggalah lahirnya manusia yang berbilang
bangsa dan ugama yang mengamalkan berbagai bahasa, budaya, pakaian dan adat
resam.
Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah
menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi
hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas
mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh
sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam.
Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk
kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Agama Islam yang
beliau bawa ini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam
adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa, di setiap tempat dan di
masyarakat manapun.
Islam itu cocok
diterapkan di setiap masa, tempat dan masyarakat adalah dengan berpegang teguh
dengannya tidak akan pernah bertentangan dengan kebaikan umat tersebut di masa
kapan pun dan di tempat manapun. Bahkan dengan Islamlah keadaan umat itu akan
menjadi baik. Akan tetapi bukanlah yang dimaksud dengan pernyataan Islam itu
cocok bagi setiap masa, tempat dan masyarakat adalah Islam tunduk kepada
kemauan setiap masa, tempat dan masyarakat, sebagaimana yang diinginkan oleh
sebagian orang.
Agama Islam
adalah agama yang benar. Sebuah agama yang telah mendapatkan jaminan
pertolongan dan kemenangan dari Allah ta’ala bagi siapa saja yang berpegang
teguh dengannya dengan sebenar-benarnya. Agama Islam adalah ajaran yang
mencakup akidah/keyakinan dan syariat/hukum. Islam adalah ajaran yang sempurna,
baik ditinjau dari sisi aqidah maupun syariat-syariat yang diajarkannya:
- Islam memerintahkan untuk menauhidkan Allah ta’ala dan melarang kesyirikan.
- Islam memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang dusta.
- Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya.
- Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat.
- Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji.
- Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang perbuatan durhaka kepada mereka.
- Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan silaturahim.
- Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang bersikap buruk kepada mereka.
Secara
umum dapat dikatakan bahwasanya Islam memerintahkan semua akhlak yang mulia dan
melarang akhlak yang rendah dan hina. Islam memerintahkan segala macam amal
salih dan melarang segala amal yang jelas.[1]
B. HARAPAN
Harapan dalam
kehidupan manusia merupakan cita-cita, keinginan, penantian, kerinduan supaya
sesuatu terjadi, Didalam menatikan adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan,
manusia melibatkan manusia lain atau kekuatan lain di dirinya supaya terjadi sesuatu, selain hasil usahanya yang
telah dilakukan dan ditunggu hasilnya. Jadi, yang diharapkan itu adalah hasil
jerih payah dirinya dan bantuan kekuatan lain. Bahkan harapan itu tidak
bersifat egosentris, usaha ialah memiliki (Gabriel Marcel, 1889-1973).
Harapan tertuju
kepada “Engkau”, sedangkan keinginan kepada “Aku”. Harapan itu ditujukan kepada
orang lain atau kepada Tuhan. Keinginan itu untuk kepentingan dirinya, meskipun
pemenuhan keinginan itu melalui pemenuhan keinginan orang lain. Misalnya
melakukan perbuatan sedekah kepasa orang lain, orang lain terpenuuhi
keinginannya, dan sekaligus orang yang sedekahjuga terpenuhi keinginannya,
yaitu kebahagiaan sewaktu berbuat baik kepada orang lain.
Menurut macamnya
ada harapan yang optimis dan ada harapan yang pesimistis (tipis harapan).
Harapan yang optimis artinya sesuatu yang akan terjadi itu sudah memberikan
tanda-tanda yang dapat dianalisis sescara rasional, bahwasesuartu yang akan
terjadi bakal muncul. Dalam harapan yang pesimistis ada tanda-tanda rasional
tidak bakal terjadi.
Harapan itu ada
karena manusia hidup. Manusia hidup penuh dengan dinamikanya, penuh dengan
keinginannya atau kemauannya. Harapan untuk setiap orang berbeda-beda kadarnya.
Orang yang wawasan berpikirnya luas, harapannya pun akan luas. Demikian pula
orang yang wawasan berpikirnya sempit, makan akan smepit pula harapannya.
Besar kewcilnya
harapan sebenarnya tidak ditentukan oleh luas atau tidaknya wawasan berpikir
seseorang, tetapi kepribadian seorang dapat menentukan dan mengontrol jenis,
macam, dan besar kecilnyanya harapan tersebut. Bila kepribadian seseorang kuat,
jenis dan besarnya harapan akan berbeda dengan orang yang kepribadiannya lemah.
Kepribadian yang kuat akan mengontrol harapan seefektif mungkin sehingga tidak
merugikan bagi dirinya atau bagi orang lain, untuk masa kini atau untuk masa
depan, bagi masa did unia atau masa di akhirat.
Harapan
seseorang juga di tentukan oleh kiprah usaha atau kerja kerasnya seseorang. Orang
yang bekerja keras akan mempunyai harapan yang besar. Untuk memperoleh harapn
yang besar, tetapi kemampuannya kurang, biasanya disertai dengan bantuan unsure
dalam, yaitu berdoa.[2]
C.
ISLAM
DAN HARAPAN
Harapan sangat erat ikatannya dengan
keyakinan. Berharap, dengan kata dasar harap dan ditambah imbuhan
ber- yang terbentuk menjadi sebuah kata kerja. Yakni kita bekerja dengan
akal dan hati kita untuk menggantungkan harapan yang kita miliki kepada Sang
Pencipta agar apa yang kita harapkan dapat terwujud. Selain itu Ia menyakini
bahwa ada Zat yang berkuasa atas apa yang kita harapkan yaitu Tuhan Yang Maha
Esa. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang
mempunyai harapan, misalnya Ishaq mengharapkan lulus Ujian mengemudi, tetapi
tidak ada usaha dari seorang Iskhaq untuk belajar mengemudi, Bagaimana mungkin
Ikhaq lulus dalam ujian mengemudi.
Harapan merupakan bagian dari fitrah manusia yang tidak
mungkin ditinggalkan oleh setiap manusia. Orang yang tidak mempunyai suatu
harapan pada hakekatnya adalah manusia yang mati, mengingat harapan
merupakan titik awal manusia untuk selalu berkembang menuju kehidupan yang
lebih baik.
Islam sendiri menganjurkan manusia untuk selalu berharap,
namun dalam islam yang dimaksud berharap yaitu berharap pada kemurahan Allah
SWT, mengingat Allah SWT adalah tuhan yang maha kuasa atas segalanya.
Allah SWT berfirman dalam surat Al insyirah ayat 8:
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan hanya kepada Tuhanmulah (Allah SWT) hendaknya
kamu berharap”.
(Qs
Al Insyirah: 8)
Berdasarkan firman Allah SWT diatas
dapat kita tarik kesimpulan bahwa Islam menganjurkan manusia untuk selalu
berharap pada Allah SWT. Allah memerintahkan kita agar hanya kepada
Allah saja hendaknya kita berharap.
Oleh karena itu Imam Baihaqi
menyebutkan dalam kitab beliau “Syu’ab Al Iman” bahwa berharap pada Allah
merupakan cabang iman ke 12. Jadi kalau kita tidak berharap pada Allah atau
sedikit harapan kita pada Allah berarti tidak sempurna imannya. Kalau kita
tidak berharap pada Allah berarti ada dua masalah:
Pertama, kita akan berdosa karena berharap
pada Allah merupakan perintah Allah,seperti yang tertera pada firman
Allah diatas
“ dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(QS Al
Insyirah 8).
Kedua, kita akan terpentok dalam hidup,
sering putus asa, dam kehilangan solusi karena tidak ada yang dianggap bisa
menyelesaikan kasus atau memberikan solusi.
Allah SWT kembali berfirman dalam surat Al baqarah ayat
218 :
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ يَرْجُونَ
رَحْمَتَ اللهِ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُ
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah
dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 218)
Firman Allah diatas kembali memberitahukan pada kita bahwa
islam menganjurkan umat muslim untuk senantiasa berharap akan rahmat Allah.
Islam berpendapat bahwa jika seseorang mempunyai suatu
harapan maka seseorang tersebut harus melakukan 3 (tiga) hal untuk mewujudkan
harapan tersebut, yakni :
1. Ikhtiar (Usaha)
Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam
hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan
hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Ikhtiar harus dilakukan
dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, jika usaha tersebut gagal,
hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih
keras dan tidak berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan
sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat
ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi
dengan perbuatan baik.
2.
Doa
Disamping kita melakukan usaha-usaha untuk mewujudkan
harapan tersebut, kita juga tidak boleh melupakan doa. Menurut bahasa
do'a berasal dari kata "da'a" artinya memanggil. Sedangkan
menurut istilah syara' do'a berarti "Memohon sesuatu yang bermanfaat dan
memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang memudharatkan.
Pada hakekatnya segala sesuatu di dunia ini merupakan bentuk
dari kekuasan Allah SWT, jadi kita di dunia ini hanyalah seorang budak yang
lemah, hina, dan tak punya apa-apa, Oleh karenanya kita membutuhkan
pertolongan dari Allah SWT.
Ibnu
Attoillah Assakandari, ulama ahli tassawuf mengatakan dalam kitabnya (Al Hikam)
bahwa, “ Agar doa kita dapat dikabulkan oleh Allah SWT, maka doa tersebut
memerlukan rukun, sayap, waktu, dan sebab. Apabila doa cocok (sesuai)
dengan sayapnya maka doa tersebut akan terbang ke langit (menuju Allah SWT),
Apabila doa cocok (sesuai) dengan waktunya maka doa tersebut akan
diterima, Apabila doa cocok (sesuai) dengan sebabnya maka doa
tersebut akan dikabulkan Allah SWT ”. [3]
Orang yang berdoa bukan hanya
sekedar sadar bahwa kekuatannya lemah, tetapi ada unsur keyakinan bahwa berdoa
itu merupakan kewajiban. Dan kelemahan manusia itu dilukiskan sebagai berikut :
a.
Manusia hidup dalam kondisi ketidakpastian, hal yang penting
bagi kemanan dan kesejahteraan manusia berada diluar jangkauannya. Dengan kata
lain manusia ditandai oleh ketidakpastian.
b.
Terbatasnya kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan
untuk mempengaruhi kondisi hidupnya. Pada titik tertentu, kondisi manusia ada
dalam kaitan konflik antara keinginan dan cita-cita dengan lingkungannya, yang
ditandai oleh ketidakberdayaan.
c.
Manusia hidupbermasyarakat, yang ditandai dengan adanya
alokasi teratur berbagai fungsi, fasilitas, pembagian kerja, produksi, dan
ganjaran. Manusia membutuhkan kondisi imperative (keterpaksaan), yakni adanya
suatu tingkat superordinasi dan subordinasi atau berbagai aturan dalam hubungan
manusia.[4]
3.
Tawakkal
Setelah kita melakukan ikhtiar (usaha) untuk mewujudkan
suatu harapan, dan meminta pada Allah agar Allah merealisasikan harapan
tersebut. Maka kita hanya tinggal melakukan satu hal yakni tawakkal
pada Allah. Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang
memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 :
1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan,
mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT, karena
Allah SWT mempunyai hak mutlaq untuk mewujudkan atau meniadakan suatu hal di
dunia ini.
Dalam kehidupan kadang-kadang kita
merasakan bahwa seakan-akan harapan kita tidak terwujud seperti keinginan kita.
Meskipun kita sudah melakukan usaha semaksimalkan mungkin untuk mewujudkan harapan
itu. Kita juga sudah berdoa sungguh-sungguh pada Allah, akan tetapi seakan-akan
Allah SWT tidak peduli terhadap doa kita. Seringkali permasalahan ini
menimbulkan sebuah pernyataan bahwa Allah SWT tidak mempunyai sifat Ar Rohman
(pengasih).
Ulama Sufi terkenal, Ibnu Attoillah
memberi tanggapan mengenai hal tersebut, menurut beliau tatkala kita mempunyai
suatu harapan, dan kita sudah Ikhtiar dengan sungguh-sungguh serta berdoa pada
Allah dengan penuh harap, akan tetapi harapan kita tidak terwujud sesuai dengan
keinginan kita, maka kita tidak boleh menganggap bahwa Allah SWT tidak peduli
terhadap hamba-Nya. Perlu diketahui bahwa Allah itu mempunyai sifat Ilmu
(mengetahui) yang lebih dari pengetahuan manusia, jadi Allah SWT sejatinya
lebih mengerti apa yang lebih baik dan pantas bagi hamba-Nya. Mungkin
adakalanya ketika harapan hamba tersebut dikabulkan Allah justru membawa hamba
tersebut menuju jalan yang tidak baik, begitu juga sebaliknya. Misalnya, ketika
seseorang berharap kaya dan Allah merealisasikan harapan tersebut, mungkin
kekayaan tersebut dapat membawanya lupa kepada Allah.
Dalam kehidupan, kita juga harus selalu mengingat dua
hal, yakni:
1) Sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT itu belum pasti
sesuai dengan keinginan (harapan) kita.
2) Waktu yang dipilih Allah SWT untuk memberikan sesuatu
pada kita itu belum pasti sesuai dengan waktu yang kita inginkan.
Dua hal diatas tersebut meruju’ kembali
pada pernyataan bahwa Allah SWT lebih mengerti apa yang lebih baik dan pantas
bagi diri kita (manusia).
Didalam kitab Ihya’ Ulumuddin
diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mempuyai suatu harapan. Akan tetapi
harapan nabi tidak serta merta dikabulkan oleh Allah SWT, karena mungkin hal
itulah yang pantas dan baik untuk Nabi Muhmmad SAW.
Pada suatu hari Nabi Muhammad mendapat
perintah dari Allah untuk memindahkan kiblat umat Islam dari masjidil haram ke
Baitul Maqdis. Mendapat perintah tersebut Nabi Muhammad SAW bersedih, hal ini
dikarenakan Baitul Maqdis merupakan kiblatnya orang yahudi dan Nasrani. Beliau
tidak mau menyamakan umat Islam dengan Umat yahudi dan nasrani. Nabi SAW pun
berharap agar Allah SWT mengembalikan kiblat Umat Islam kembali ke masjidil
haram. Setiap malam, setelah shalat tahajud Nabi SAW selalu memohon pada Allah
SWT sambil menghadapkan wajah beliau kelangit dengan wajah penuh air mata.
Berharap turun wahyu pengembalian kiblat ke ke masjidil haram. Akan tetapi
Allah SWT tidak merespon doa Nabi.
Merasa kasihan pada Nabi SAW, malaikat
jibril As pun rela bersujud pada Allah SWT agar Allah mengabulkan doa Nabi
Muhammad SAW.
Allah pun berfirman pada malaikat Jibril As: “ Jibril,
aku melakukan hal teresbut dikarenakan aku suka mendengar desah tangis
kekasih-Ku (Nabi Muhammad SAW) ”.
Akhirnya pada malam ke 480 setelah
kejadian pemindahan kiblat umat Islam dari masjidil haram ke Baitul Maqdis,
Allah menurunkan wahyu yang isinya tentang pegembalian kiblat umat Islam ke
masjidil haram.
Dari hikayat diatas dapat kita
simpulkan bahwa Harapan Nabi Muhammad Allah pernah tidak di kabulkan Allah
secara langsung. Hal ini dikarenakan Allah SWT lebih mengetahui apa yang pantas
dan baik bagi kekasih-Nya.[5]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Islam adalah agama yang haq dan diridhai Allah SWT, diturunkan
melalui Nabi Muhammad SAW yang dipilih sebagai rasul-Nya yang terakhir. Ajaran
atau petunjuk Allah SWT yang disebut agama Islam itu, terhimpun secara lengkap
dan sempurna di dalam Al-Quran sebagai mana difirmankan melalui surat Ali Imran
ayat 138 yang artinya sebagai berikut: “Al-Quran itu adalah penerangan bagi
seluruh manusia, petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Harapan dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita,
keinginan, penantian, kerinduan supaya sesuatu terjadi, Didalam menatikan
adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan, manusia melibatkan manusia lain
atau kekuatan lain di dirinya supaya
terjadi sesuatu, selain hasil usahanya yang telah dilakukan dan ditunggu
hasilnya. Jadi, yang diharapkan itu adalah hasil jerih payah
dirinya dan bantuan kekuatan lain.
Harapan merupakan bagian dari fitrah manusia yang tidak
mungkin ditinggalkan oleh setiap manusia. Orang yang tidak mempunyai suatu
harapan pada hakekatnya adalah manusia yang mati, mengingat harapan
merupakan titik awal manusia untuk selalu berkembang menuju kehidupan yang
lebih baik.
Islam sendiri menganjurkan manusia untuk selalu berharap,
namun dalam islam yang dimaksud berharap yaitu berharap pada kemurahan Allah
SWT, mengingat Allah SWT adalah tuhan yang maha kuasa atas segalanya.
DAFTAR PUSTAKA
http://muslim.or.id/aqidah/agama-islam.html
Dr.
M. Munandar Soelaeman, Ilmu Budaya Dasar,
Bandung : PT Refika Aditama 2007, hal.106-107
http://www.himmaba.com/2013/04/pandangan-islam-mengenai-harapan.html
Hadis Relisasi Iman dalam kehidupan sosial
BAB I
PENDAHULUAN
Sudah menjadi keyakinan
bahwa sumber utama syari’at Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadist. Selain yang
telah di tegaskan al-Qur’an sendiri, juga dalam berbagai hadis Rasulullah
menuntun agar umat islam berpegang teguh kepada ke dua sumber tersebut.
Sejalan dengan
perkembangan waktu, umat manusia juga menghadapi berbagai permasalahan yang
harus di sikapi dan di jalankan dengan baik. Maka bagi umat islam, permasalahan
yang timbul kapan dan di manapun maka harus di kembalikan kepada pegangan hidup
mereka yang telah di tetapkan, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Dan oleh sebab itu,
kami sebagai pemakalah ingin memaparkan apa-apa saja sikap yang harus kita
terapkan dalam kehidupan kita. begitupun dalam kehidupan sehari-hari karna
sesungguhnya begitu banyak penerapan- penerapan hadis yang di ajarkan
Rasullullah . kita sebagai umat muslim patut untuk mencontoh jejak-jejak
rasullullah Saw, dan dengan begitu maka kita pantas di katakan sebagai umat
Nabi saw.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Realisasi Iman Dalam
Kehidupan Sosial
1. Hadis cinta sesama
muslim
a. Dari Anas bin Malik r.a
dari Nabi saw yang
bersabda:
لاَ يُؤ منُ أَحَدُ كُمْ حَتّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ.[1]
( روا ه البخا رى و مسلم )
Artinya: “Salah seorang dari kalian tidak
beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya ”
( Di riwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Redaksi Muslim sebagai
berikut:
لاَ يُؤْ مِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّي يُحِبَّ لِجَارَهِ
أَوْ لِأَ خِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه
Artinya: “Tidaklah
beriman di antara kalian hingga ia mencintai untuk tetangganya atau saudaranya
apa yang ia cintai untuk dirinya.”
لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ الإِيْمَا نِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا
يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ .
Artinya : “seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman hingga ia mencintai kebaikan untuk manusia seperti
yang ia cintai untuk dirinya sendiri.[2]”(di
riwayatkan Imam Ahmad)
b. Tinjauan Bahasa
Mencintai merupakan masdarnya
dari يُحِب :
(الْمَحَبَّةُ ), sering digunakan yang
berarti : kecenderungan terhadap sesuatu yang ada pada orang yang di cintai
Saudara, tetapi maksud
saudara pada hadis di atas adalah saudara seiman dan seislam.
c. Makna Hadits secara umum
Di antara sifat iman yang wajib
ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk
dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika
sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
Namun dengan demikian, hadits
tersebut bukan berarti dapat di artikan bahwa seorang mukmin yang tidak
mencintai mukmin lainnya dapat di katakan juga tidak beriman. Karena maksud
pernyataanلاَ يُؤْ مِنُ أَ حَدُ كُمْ pada hadis di atas “ tidak sempurna keimanan
seseorang,” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.
Jadi, huruf nafi لاَ pada hadis tersebut berhubungan dengan
ketidaksempurnaan.
Dalam hadits lain juga ada
menyebutkan betapa pentingnya memiliki sifat tersebut, bahkan Nabi saw
menomerkan masuk surga bagi orang yang memilikinya. Sebagaimana dalam hadis
berikut ini:
عَنْ اَنَس رَضيَ ا اللهُ عَنْهُ عَنِ
النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَا لَ :
ثَلاَ ث مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَ وَ ةَ ا لإِ يمَا نِ :
أَنْ يَكُوْ نَ اللهُ وَرَسُول لهُ أَ حَبَّ إلَيهِ مِمَّا
سِوَا هُمَا , وَ اَنْ يُحِبُّهُ إلأَ
للهِ, وَاَنْ يَكْرَ هَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْر كَمَا يَكْرهُ
أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
Artinya: DiriwayatkandariAnasr.a.: Nabi Saw. Pernah bersabda, “siapapun yang memiliki tiga kualitas berikut
akan memperoleh kelezatan iman:
1. Orang yang mencintai Allah AzzaWaJalla dan
Rasul-nya (Muhammad Saw) melebihiapapun.
2. Orang yang mencintai orang lainsemata-matakarena
Allah swt.
3. Orang yang membenci kekafiran sebagaimana ia
membenci dimasukkan kedalam api neraka.[3]
Imam Ahmad meriwayatkan Hadits dari Muadz bin Jabal
bahwa ia bertanya kepada Nabi saw tentang iman yang paling utama kemudian beliau
bersabda,“Iman yang paling utama ialah engkau mencintai dan membenci karena
Allah dan menggunakan lidahmu dalam dzikir kepada Allah.” Muadz bin Jabal
berkata “Apa lagi, wahai Rasullullah?” Rasullullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda, “ Engkau cintai untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu,
membenci untuk mereka apa yang engkau benci untuk dirimu, dan berkata dengan
benar, atau diam.”[4]
Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan
hadis dari yazid bin Asad Al-Qasri yang berkata, Rasullullah Shalallahu Alaihi
Wa Sallam berkata kepadaku,“ Apakah engkau ingin masuk surga?” Aku menjawab,
“ya” Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Cintailah untuk
saudaramu apa yang engkau cintai untuk dirimu.”[5]
d. Fiqh Al-Hadits
Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin
adalah mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu
direalisasikan dalam kehidupannya sehari-hari dengan berusaha untuk menolong
dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaan saudaranya seiman yang di dasarkan
atas keimanan yang teguh kepada Allah swt. Dia tidak berpikir panjang untuk
menolong saudaranya sekalipun sesuatu yang diperlukan saudaranya benda yang
paling ia cintai.
2. Hadits muslim tidak mengganggu
orang lain
a.
Dari Abdullah bin Umar
dari Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم . قَا ل : الْمُسلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ ,وَ الْمُهَا جِرُ مَنْ
هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ .
Artinya: “Abdullah Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah
Saw bersabda[6]
“ seorang muslim adalah yang orang musim lainnya merasa selamat dari lisan dan
tangannya dan orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah
dilarang Allah Swt.” ( H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa’i )[7]
Di riwayatkan dari Rasulullah,
beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling baik itu?” Beliau
menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya selamat dari lisan
dan perbuatan tangannya.’
Selain hadis yang di atas terdapat pula riwayat
lain dari jabir, Abu Musa dan Abdullah bin Amru.
Artinya: Ibrahim bin
Sa’id Al-Jauhari menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami,
dari Buraidah bin Abdullah bin Abu Burdah, dari kakeknya, Abu Burdah, dari Abu
Musa Al-Asy’ari bahwasanya Nabi saw pernah ditanya, “kaum muslimin mana yang
paling afdhal?” beliau menjawab, “ yang kaum muslimin lainnya selamat dari
lisan dan tangannya.”[8]
Shahih: Muttafaq alaih
b. Tinjauan Bahasa
Menyelamatkan سَلِمَ :
Berpindah هَجَرَ :
Melarang نَهَى :
c. Makna hadits secara umum
Hadits di atas mengandung dua pokok pembahasan,
yakni tentang hakikat seorang muslim , dalam membina hubungan sesama muslim
dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menjelaskan hakikat hijrah dalam
pandangan islam.
Orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat telah
tergolong muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi),
ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Islam, tanpa
memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak di sukai olehnya.
Dengan tidak mengganggu orang lain juga merupakan
bentuk berakhlak mulia dan merupakan perbuatan iman yang paling utama, yaitu
dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagaimana ada hadis yang diriwayatkan oleh
An-Nawwas bin Sam’an Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda :
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُق. وَالإِثْمُ مَاحَاكَ فِي
صَدْركَ وَ كَرِهْتَ أَنْ يَطَّلعَ عَلَيْهِ النَّا سُ
Artinya :“Kebaikan
ialah akhlak yang baik dan dosa ialah apa saja yang menggoncangkan jiwamu dan
engkau tidak suka manusia melihatnya.” (Diriwayatkan Muslim)
Terkadang yang di maksud dengan
akhlak yang baik adalah berakhlak dengan akhlak syari’at dan beretika dengan
etika-etika Allah di mana dia mendidik hamba-hamba-nya denganya di Al-Qu’an
seperti yang di firmankan Allah:
وَ اِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Artinya :“Dan
sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4)
Aisyah Radhiallahu Anha berkata, “ Akhlak Nabi
Saw adalah A-Qur’an.” Maksudnya, Nabi S.a.w. beretika dengan etika-etika
Al-Qur’an kemudian mengerjakan apa saja yang diperintahkan Al-Qur’an dan
menjauhi apa saja yang di larangnya[9].
Jadi, mengamalkan Al-Qur’an itu seperti akhlak layaknya watak yang tidak
terpisahkan. Ini termaksud akhlak yang paling mulia dan paling indah.
Oleh karena itu, Allah menamakan apa saja yang ia
perintahkan sebagai kebaikan dan apa saja yang menjadi larangannya sebagai kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman
dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya Allah menyuruhku berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan.” (An-Nahl: 90).
Allah juga menjelaskan bahwa hati kaum mukminin
tentram dengan dzikir kepada-Nya.[10]
Jadi, hati yang di masuki cahaya iman dan senang dengannya itu tentram dengan
kebenaran, damai dengannya, menerimanya, lari dari kebathilan, membencinya dan
tidak menerimanya.
Hijrah juga dapat diartikan sebagai perjalanan
panjang untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dapat juga diartikan sebagai
perjalanan panjang untuk mendapatkan Ridhanya. Dan untuk menempuh suatu
perjalanan maka di perlukan bekal yang cukup. Bekal tersebut dalam islam adalah
aqidah yang kuat.[11]
d. Fiqh Al-Hadis
Di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah
tidak mau menyakiti saudaranya seiman. Selain itu, ia juga berusaha untuk
berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada
perbuatan-perbuatan yang di Ridhai-nya.
3. Hadits menghadapi
tamu, tetangga dan cara bertutur kata
a.
Dari Abu Hurairah R.a
dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam yang bersabda:
عَن أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عنه اَنْهُ قَا ل : قَال رَسُولُ اللهِ صلي
الله عَلَيه وَسَلَمْ : مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَلْيُكْرمْ
ضَيْفَهُ , وَ مَنْ كَا نَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَاْليَوْ مِ اْلأ خِرِفَليُحْسِنْ
اِلَى إِلَى جَارِهِ , وَ مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَ اْليَوْمِ الأَ خِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْر. ( اَخْرَجَهُ الشَّيْخَان وابن مَاجَه )
Artinya: “Dari abu Huraira r.a. Ia berkata
bahwa Rasulullah Saw. Bersabda,“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, ia harus memuliakan tamunya, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, ia harus berbuat baik kepada tetangganya, Dan barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, ia harus berkata baik atau diam.(H.R, Bukhari dan
Muslim dan Ibnu Majah).
Hadits di atas diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari banyak jalur dari Abu Hurairah. Di
sebagian redaksinya disebutkan, “maka ia jangan menyakiti tetangganya. ”Di
sebagian redaksi lainnya disebutkan[12],
“hendaklah ia baik dalam memuliakan tamunya.” Di sebagian redaksinya yang lain disebutkan, “hendaklah ia menyambung kerabatnya,” menggantikan penyebutan tetangga.
b. Tinjauan Bahasa
Memuliakan يُكْرِ م :
Tamu ضَيْفٌ
:
Membuat kebaikan يُحْسِنُ
:
Tetanggaجَا رٌ :
Diam (tidak berbicara)يُصْمِتُ :
c. Makna hadits secara umum
Dari hadis yang pertama di atas, itu dapat kita
simpulkan ada tiga perkara yang dapat kita simpulkan yang di dasarkan keimanan
kepada Allah dan hari akhir, yakni memuliakan tamu, memuliakan tetangga dan
berbicara baik atau diam.
1.
Memuliakan tamu
Dalam maksud memuliakan tamu dalam hadis di atas
baik perseorangan maupun kelompok tentu saja harus berdasarkan kemampuan dan
bukan riya’.
Di antara hal-hal yang harus di perhatikan dalam
memuliakan tamu adalah memberikan sambutan yang hangat. Ini lebih baik dari
pada di berikan hidangan yang mahal-mahal, tetapi dengan muka yang kasam atau
kecut.
Apabila tamu yang datang hanya bermaksud meminta
tolong tentang suatu masalah atau kesulitan, maka bantulah semampu yang kita
bisa.
2.
Memuliakan tetangga
Maksud tetangga di sini itu umum, baik yang dekat
maupun jauh, muslim, kafir, ahli ibadah, musuh dan lain-lain. Namun demikian
dalam memuliakan mereka, terdapat tingkatan antara antara satu tetangga dengan
yang lainnya.
Selain itu di haruskan pula menjaga mereka dari
ancaman gangguan dan bahaya.
Sebagaimana dalam hadits:
عَنْ أَ بِي شُرَيْحِ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ
قَا لَ : إِنَّ النَّبِيِّ ِ صلى الله عليه وسلم قَا لَ : (وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ , وَ اللهِ لاَ
يُؤْ مِنُ , وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ ). قِيْلَ : وَ مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَا
لَ : ( الَّذِ ي لاَ يَأ مَنُ جَا رُهُ بَوَا ئقَهُ ).
Artinya: Diriwayatkan
dari Abu syuraih r.a,: Nabi Saw . pernah bersabda, “Demi Allah! Dia tidak
beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman!”
seseorang bertanya, “ siapa ya Rasulullah?” Nabi Saw. Bersabda “ Orang yang
membuat tetangganya merasa tidak aman dari kejahatan-nya.” [13]
Dalam hadits lainnya yang di riwayatkan oleh Aisyah.
عَنْ عَا ئَشَةَ رَ
ضِيَ اللهُ عَنْهَا , عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَا لَ : (مَا زَالَ جِبْر يْلُ يُو صِينِي
بِالجَا رِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ
سَيُوَ رِّث
Artinya: Di riwayatkan
dari Aisyah r.a,: Nabi Saw pernah bersabda, “ jibril menganjurkan aku bersikap
baik terhadap tetangga sedemikian rupa sehingga aku berpikir dia menyuruhku
menjadikan mereka sebagai ahli warisku.
Di antara akhlak
terpenting terpentng terhadap tetangga adalah:
1.
Menyampaikan ucapan
selamat ketika tetangga sedang bahagia
2.
Menjenguknya takkala
sakit
3.
Bertakziah ketika ada
keluarganya yang meninggal
4.
Menolongnya ketika ia memohon
pertolongan
5.
Memberikan nasehat
dalam beberapa urusan dengan yang cara yang ma’ruf.[14]
3.
Berbicara baik atau
diam
Perbuatan-perbuatan iman terkadang terkait dengan hak-hak
Allah, seperti mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang di
haramkan.Termasuk dalamcakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang
baikdan diam dari yang jelek.[15]
Di sebutkan dalam hadits bahwa lidah yang lurus
termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad[16]
dari Anas bin Malik r.a dari Nabi Saw bersabda :
“Iman seseorang tidak lurus hingga hatinya lurus
dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”[17]
Dalam sabda Nabi Saw, “hendaklah ia berkata baik
atau hendaklah ia diam,” adalah perintah untuk berkata baik dan diam dari
keburukan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perkataan yang sama kalau di ucapkan
dan tidak di ucapkan. Namun bisa jadi perkataan itu baik, karenanya,
diperintahkan di ucapkan. Dan bisa jadi, perkataa itu tidak baik, karenanya, di
perintahkan tidak di ucapkan.
d.
Fiqh Al-Hadis
Untuk kesempurnaan iman dan sebagai salah satu
tanda keimanan kepada Allah Swt, dan hari akhir, seorang mukmin harus
memuliakan tetangga, tamu,dan berkata baik atau diam.
B. Kesimpulan
1.
Di antara sifat iman
yang wajib ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia
cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya
sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
2.
Di riwayatkan dari
Rasulullah Saw, beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling
baik itu?” Beliau menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya
selamat dari lisan dan perbuatan tangannya.’
Untuk dikatakan muslim
yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan
ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak
di sukai olehnya. Selain itu, ia juga berusaha untuk berhijrah (pindah) dari
melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada perbuatan-perbuatan
yang di Ridhai-nya.
3.
Termasuk dalam cakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang baik dan diam dari yang jelek.[18]
Di sebutkan dalam hadis bahwa lidah yang
lurus termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad dari Anas
bin Malik r.a dari Nabi saw yang bersabda :
“Iman seseorang tidak
lurus hingga hatinya lurus dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”
DAFTAR PUSTAKA
Az-Zabidi,Imam. Mukhtasar Shahih Bukhari, Selangor Malaysia: PERCETAKAN ZAFAR, 2004.
Nashiruddin Al-Albani,Muhammad. Shahih
Sunan Tirmidzi, Jakarta: Puataka Azzam,
2007.
Rajab,Ibnu. PANDUAN ILMU &
HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-
Nawawi. Jakarta: Darul Falah,
2002.
Syafe’i,Rachmat. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum,(Bandung:
Pustaka Setia, 2000
[1]
.Di riwayatkan
al-Bukhari hadist Nomor: 13, Muslim
Nomor: 45, Imam Ahmad 2/176, 251, 272, 289, at-Tarmizi Hadis Nomor: 5215, Ibnu
Majah hadist Nomor:66, dan an-Nasa`I 8/115, Hadist tersebut di shahihkan Ibu
Hibban Hadist Nomor:234 dan 235.
[2]
Dari Abu Hurairah, Hadist tersebut di riwayatkan Imam Ahmad 2/376,
Al-Bukhari hadist nomor:2475, dan Muslim hadist no 57.
[3]Imam Az-Zabidi. Mukhtasar Shahih Bukhari, (Selangor Malaysia:
PERCETAKAN ZAFAR, 2004). Hlm. 12-13.
[4]Diriwayatkan Imam Ahmad 5/247 dan di sanadnya terdapat Zuban bin Faid dan
Ibnu Lahi’ah yang keduanya merupakan perawi dhaif
[5]Diriwayatkan Imam Ahmad di al-Musnad 4/70. Hadis tersebut juga diriwayatkan
Al-Hakim 4/168 dan menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadis tersebut
mempunyai penguat yaitu hadis Abu Hurairah yang di riwayatkan Imam Ahmad 2/310
dan At-Tirmidzi hadis nomer 2305.
[6]
Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan
Hukum
[8]Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Shahih
Sunan Tirmidzi, (Jakarta: Puataka Azzam, 2007).hlm. 64-65.
[9]
Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU & HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain-
An-Nawawi . ( Jakarta: Darul Falah, 2002 ).Hlm. 588-589
[10]
Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan
Hukum., hlm.44.
[12]
Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan
Hukum., hlm.45.
[14]Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum.
Hlm.48-49
[15]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &
HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.
[16]
Al-Musnad 3/198, di sanadnya
terdapat perawi Ali bin Maidah yang merupakan perawi dhaif.
[18]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &
HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.
Langganan:
Postingan (Atom)