Jumat, 22 November 2013

Ilmu Budaya Dasar, Islam dan Harapan



KATA PENGANTAR


Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menjadikan bumi beserta isinya dengan begitu sempurna dan atas limpahan rahmat, taufiq serta hidayah – Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan dengan mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul “ Islam dan Harapan ” untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Ucapan terima kasih dan rasa hormat kami kepada semua pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan bahwa tiada makalah yang sempurna tanpa uluran tangan pemerhatinya. Oleh karena itu, kritik serta saran sangat kami harapkan dari pembaca sekalian yang bersifat membangun, agar demi lebih baiknya kinerja kami yang akan mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak.









                                                                                                Hormat Kami,
                                               

                                                                                                Tim Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang ajarannya berasal dari wahyu Allah SWT dan diturunkan kepada manusia melalui utusannya, Nabi Muhammad SAW. Pada hakekatnya, Islam membawa ajaran ajaran tentang semua aspek kehidupan manusia, bukan menitik beratkan pada salah satu aspek saja. Sumber ajaran Islam adalah al-Qur'an dan Hadis.
Sumber ajaran Islam pertama, al-Qur'an, dalam faham dan keyakinan umat Islam, berisi firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui wahyu untuk disebarkan dan dijadikan pedoman hidup bagi umat manusia. Hadis sebagai sumber kedua dari ajaran Islam adalah ucapan, perbuatan atau persetujuan dari Nabi Muhammad SAW. Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan,biasanya berupa pesan-pesankepada ahli warisnya.Harapan bergantung paa pengetahuan,pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.
Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan.Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri,maupun kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa. Agar harapanterwujud,maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk,sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintar. Antara harapan dan cita-cita terdapat persamaan yaitu : keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud.
Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan. Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah. Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif, Oleh karena itu dalam makalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam tentang manusia dan harapan.

BAB II
PEMBAHASAN
ISLAM DAN HARAPAN

A.    ISLAM

Islam adalah agama yang haq dan diridhai Allah SWT, diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW yang dipilih sebagai rasul-Nya yang terakhir. Ajaran atau petunjuk Alloh SWT yang disebut agama Islam itu, terhimpun secara lengkap dan sempurna di dalam Al-Quran sebagai mana difirmankan melalui surat Ali Imran ayat 138 yang artinya sebagai berikut: “Al-Quran itu adalah penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Islam adalah agama yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang merupakan seorang Nabi dan Rasul terakhir kepada seluruh alam dan tiada yang terkecuali darinya. Sejak Allah SWT menciptakan manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s. dan isterinya Hawa, manusia telah berkembang dari keduanya sehinggalah lahirnya manusia yang berbilang bangsa dan ugama yang mengamalkan berbagai bahasa, budaya, pakaian dan adat resam.
Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam.
Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Agama Islam yang beliau bawa ini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa, di setiap tempat dan di masyarakat manapun.
Islam itu cocok diterapkan di setiap masa, tempat dan masyarakat adalah dengan berpegang teguh dengannya tidak akan pernah bertentangan dengan kebaikan umat tersebut di masa kapan pun dan di tempat manapun. Bahkan dengan Islamlah keadaan umat itu akan menjadi baik. Akan tetapi bukanlah yang dimaksud dengan pernyataan Islam itu cocok bagi setiap masa, tempat dan masyarakat adalah Islam tunduk kepada kemauan setiap masa, tempat dan masyarakat, sebagaimana yang diinginkan oleh sebagian orang.
Agama Islam adalah agama yang benar. Sebuah agama yang telah mendapatkan jaminan pertolongan dan kemenangan dari Allah ta’ala bagi siapa saja yang berpegang teguh dengannya dengan sebenar-benarnya. Agama Islam adalah ajaran yang mencakup akidah/keyakinan dan syariat/hukum. Islam adalah ajaran yang sempurna, baik ditinjau dari sisi aqidah maupun syariat-syariat yang diajarkannya:
  1. Islam memerintahkan untuk menauhidkan Allah ta’ala dan melarang kesyirikan.
  2. Islam memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang dusta.
  3. Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya.
  4. Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat.
  5. Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji.
  6. Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang perbuatan durhaka kepada mereka.
  7. Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan silaturahim.
  8. Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang bersikap buruk kepada mereka.
Secara umum dapat dikatakan bahwasanya Islam memerintahkan semua akhlak yang mulia dan melarang akhlak yang rendah dan hina. Islam memerintahkan segala macam amal salih dan melarang segala amal yang jelas.[1]

B.     HARAPAN
            Harapan dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita, keinginan, penantian, kerinduan supaya sesuatu terjadi, Didalam menatikan adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan, manusia melibatkan manusia lain atau kekuatan lain di dirinya supaya  terjadi sesuatu, selain hasil usahanya yang telah dilakukan dan ditunggu hasilnya. Jadi, yang diharapkan itu adalah hasil jerih payah dirinya dan bantuan kekuatan lain. Bahkan harapan itu tidak bersifat egosentris, usaha ialah memiliki (Gabriel Marcel, 1889-1973).
Harapan tertuju kepada “Engkau”, sedangkan keinginan kepada “Aku”. Harapan itu ditujukan kepada orang lain atau kepada Tuhan. Keinginan itu untuk kepentingan dirinya, meskipun pemenuhan keinginan itu melalui pemenuhan keinginan orang lain. Misalnya melakukan perbuatan sedekah kepasa orang lain, orang lain terpenuuhi keinginannya, dan sekaligus orang yang sedekahjuga terpenuhi keinginannya, yaitu kebahagiaan sewaktu berbuat baik kepada orang lain.
Menurut macamnya ada harapan yang optimis dan ada harapan yang pesimistis (tipis harapan). Harapan yang optimis artinya sesuatu yang akan terjadi itu sudah memberikan tanda-tanda yang dapat dianalisis sescara rasional, bahwasesuartu yang akan terjadi bakal muncul. Dalam harapan yang pesimistis ada tanda-tanda rasional tidak bakal terjadi.
Harapan itu ada karena manusia hidup. Manusia hidup penuh dengan dinamikanya, penuh dengan keinginannya atau kemauannya. Harapan untuk setiap orang berbeda-beda kadarnya. Orang yang wawasan berpikirnya luas, harapannya pun akan luas. Demikian pula orang yang wawasan berpikirnya sempit, makan akan smepit pula harapannya.
Besar kewcilnya harapan sebenarnya tidak ditentukan oleh luas atau tidaknya wawasan berpikir seseorang, tetapi kepribadian seorang dapat menentukan dan mengontrol jenis, macam, dan besar kecilnyanya harapan tersebut. Bila kepribadian seseorang kuat, jenis dan besarnya harapan akan berbeda dengan orang yang kepribadiannya lemah. Kepribadian yang kuat akan mengontrol harapan seefektif mungkin sehingga tidak merugikan bagi dirinya atau bagi orang lain, untuk masa kini atau untuk masa depan, bagi masa did unia atau masa di akhirat.
Harapan seseorang juga di tentukan oleh kiprah usaha atau kerja kerasnya seseorang. Orang yang bekerja keras akan mempunyai harapan yang besar. Untuk memperoleh harapn yang besar, tetapi kemampuannya kurang, biasanya disertai dengan bantuan unsure dalam, yaitu berdoa.[2]
C.    ISLAM DAN HARAPAN
Harapan sangat erat ikatannya dengan keyakinan. Berharap, dengan kata dasar harap dan ditambah imbuhan ber- yang terbentuk menjadi sebuah kata kerja. Yakni kita bekerja dengan akal dan hati kita untuk menggantungkan harapan yang kita miliki kepada Sang Pencipta agar apa yang kita harapkan dapat terwujud. Selain itu Ia menyakini bahwa ada Zat yang berkuasa atas apa yang kita harapkan yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, misalnya Ishaq mengharapkan lulus Ujian mengemudi, tetapi tidak ada usaha dari seorang Iskhaq untuk belajar mengemudi, Bagaimana mungkin Ikhaq lulus dalam ujian mengemudi.
Harapan merupakan bagian dari fitrah manusia yang tidak mungkin ditinggalkan oleh setiap manusia. Orang yang tidak mempunyai suatu harapan  pada hakekatnya adalah manusia yang mati, mengingat harapan merupakan titik awal manusia untuk selalu berkembang menuju kehidupan yang lebih baik.
Islam sendiri menganjurkan manusia untuk selalu berharap, namun dalam islam yang dimaksud berharap yaitu berharap pada kemurahan Allah SWT, mengingat Allah SWT adalah tuhan yang maha kuasa atas segalanya.
Allah SWT berfirman dalam surat Al insyirah ayat 8:
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
Dan hanya kepada Tuhanmulah (Allah SWT) hendaknya kamu   berharap”.  
(Qs Al Insyirah: 8)
Berdasarkan firman Allah SWT diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Islam menganjurkan manusia untuk selalu berharap pada Allah SWT. Allah memerintahkan kita agar hanya kepada Allah saja hendaknya kita berharap.
Oleh karena itu Imam Baihaqi menyebutkan dalam kitab beliau “Syu’ab Al Iman” bahwa berharap pada Allah merupakan cabang iman ke 12. Jadi kalau kita tidak berharap pada Allah atau sedikit harapan kita pada Allah berarti tidak sempurna imannya. Kalau kita tidak berharap pada Allah berarti ada dua masalah:
Pertama,  kita akan berdosa karena berharap pada Allah merupakan perintah  Allah,seperti yang tertera pada firman Allah diatas
“ dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(QS Al Insyirah 8).
Kedua, kita akan terpentok dalam hidup, sering putus asa, dam kehilangan solusi karena tidak ada yang dianggap bisa menyelesaikan kasus atau memberikan solusi.
Allah SWT kembali berfirman dalam surat Al baqarah ayat 218 :

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ  يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللهِ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُ                              
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 218)
Firman Allah diatas kembali memberitahukan pada kita bahwa islam menganjurkan umat muslim untuk senantiasa berharap akan rahmat Allah.
Islam berpendapat bahwa jika seseorang mempunyai suatu harapan maka seseorang tersebut harus melakukan 3 (tiga) hal untuk mewujudkan harapan tersebut, yakni :
1.       Ikhtiar (Usaha)
Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Ikhtiar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, jika usaha tersebut gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik.

2.    Doa
Disamping kita melakukan usaha-usaha untuk mewujudkan harapan tersebut, kita juga tidak boleh melupakan doa.  Menurut bahasa do'a berasal dari kata "da'a" artinya memanggil. Sedangkan menurut istilah syara' do'a berarti "Memohon sesuatu yang bermanfaat dan memohon terbebas atau tercegah dari sesuatu yang memudharatkan.
Pada hakekatnya segala sesuatu di dunia ini merupakan bentuk dari kekuasan Allah SWT, jadi kita di dunia ini hanyalah seorang budak yang lemah, hina, dan  tak punya apa-apa, Oleh karenanya kita membutuhkan pertolongan dari Allah SWT.
Ibnu Attoillah Assakandari, ulama ahli tassawuf mengatakan dalam kitabnya (Al Hikam) bahwa, “ Agar doa kita dapat dikabulkan oleh Allah SWT, maka doa tersebut memerlukan rukun, sayap, waktu, dan sebab. Apabila doa  cocok (sesuai) dengan sayapnya maka doa tersebut akan terbang ke langit (menuju Allah SWT), Apabila doa  cocok (sesuai) dengan waktunya maka doa tersebut akan diterima,  Apabila doa  cocok (sesuai) dengan sebabnya maka doa tersebut akan dikabulkan Allah SWT ”. [3]
            Orang yang berdoa bukan hanya sekedar sadar bahwa kekuatannya lemah, tetapi ada unsur keyakinan bahwa berdoa itu merupakan kewajiban. Dan kelemahan manusia itu dilukiskan sebagai berikut :
a.       Manusia hidup dalam kondisi ketidakpastian, hal yang penting bagi kemanan dan kesejahteraan manusia berada diluar jangkauannya. Dengan kata lain manusia ditandai oleh ketidakpastian.
b.      Terbatasnya kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan untuk mempengaruhi kondisi hidupnya. Pada titik tertentu, kondisi manusia ada dalam kaitan konflik antara keinginan dan cita-cita dengan lingkungannya, yang ditandai oleh ketidakberdayaan.
c.       Manusia hidupbermasyarakat, yang ditandai dengan adanya alokasi teratur berbagai fungsi, fasilitas, pembagian kerja, produksi, dan ganjaran. Manusia membutuhkan kondisi imperative (keterpaksaan), yakni adanya suatu tingkat superordinasi dan subordinasi atau berbagai aturan dalam hubungan manusia.[4]

3.    Tawakkal
Setelah kita melakukan ikhtiar (usaha) untuk mewujudkan suatu harapan, dan meminta  pada Allah agar Allah merealisasikan harapan tersebut. Maka kita hanya tinggal melakukan satu hal yakni tawakkal pada Allah. Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT, karena Allah SWT mempunyai hak mutlaq untuk mewujudkan atau meniadakan suatu hal di dunia ini.
Dalam kehidupan kadang-kadang kita merasakan bahwa seakan-akan harapan kita tidak terwujud seperti keinginan kita. Meskipun kita sudah melakukan usaha semaksimalkan mungkin untuk mewujudkan harapan itu. Kita juga sudah berdoa sungguh-sungguh pada Allah, akan tetapi seakan-akan Allah SWT tidak peduli terhadap doa kita. Seringkali permasalahan ini menimbulkan sebuah pernyataan bahwa Allah SWT tidak mempunyai sifat Ar Rohman (pengasih).
Ulama Sufi terkenal, Ibnu Attoillah memberi tanggapan mengenai hal tersebut, menurut beliau tatkala kita mempunyai suatu harapan, dan kita sudah Ikhtiar dengan sungguh-sungguh serta berdoa pada Allah dengan penuh harap, akan tetapi harapan kita tidak terwujud sesuai dengan keinginan kita, maka kita tidak boleh menganggap bahwa Allah SWT tidak peduli terhadap hamba-Nya. Perlu diketahui bahwa Allah itu mempunyai sifat Ilmu (mengetahui) yang lebih dari pengetahuan manusia, jadi Allah SWT sejatinya lebih mengerti apa yang lebih baik dan pantas bagi hamba-Nya. Mungkin adakalanya ketika harapan hamba tersebut dikabulkan Allah justru membawa hamba tersebut menuju jalan yang tidak baik, begitu juga sebaliknya. Misalnya, ketika seseorang berharap kaya dan Allah merealisasikan harapan tersebut, mungkin kekayaan tersebut dapat membawanya lupa kepada Allah.


Dalam kehidupan, kita juga harus selalu mengingat dua hal, yakni:
1) Sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT itu belum pasti sesuai dengan keinginan (harapan) kita.
2) Waktu yang dipilih Allah SWT untuk memberikan sesuatu pada kita itu belum pasti sesuai dengan waktu yang kita inginkan.
Dua hal diatas tersebut meruju’ kembali pada pernyataan bahwa Allah SWT lebih mengerti apa yang lebih baik dan pantas bagi diri kita (manusia).
Didalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mempuyai suatu harapan. Akan tetapi harapan nabi tidak serta merta dikabulkan oleh Allah SWT, karena mungkin hal itulah yang pantas dan baik untuk Nabi Muhmmad SAW.
Pada suatu hari Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah untuk memindahkan kiblat umat Islam dari masjidil haram ke Baitul Maqdis. Mendapat perintah tersebut Nabi Muhammad SAW bersedih, hal ini dikarenakan Baitul Maqdis merupakan kiblatnya orang yahudi dan Nasrani. Beliau tidak mau menyamakan umat Islam dengan Umat yahudi dan nasrani. Nabi SAW pun berharap agar Allah SWT mengembalikan kiblat Umat Islam kembali ke masjidil haram. Setiap malam, setelah shalat tahajud Nabi SAW selalu memohon pada Allah SWT sambil menghadapkan wajah beliau kelangit dengan wajah penuh air mata. Berharap turun wahyu pengembalian kiblat ke ke masjidil haram. Akan tetapi Allah SWT tidak merespon doa Nabi.
Merasa kasihan pada Nabi SAW, malaikat jibril As pun rela bersujud pada Allah SWT agar Allah mengabulkan doa Nabi Muhammad SAW.
Allah pun berfirman pada malaikat Jibril As: “ Jibril, aku melakukan hal teresbut dikarenakan aku suka mendengar desah tangis kekasih-Ku (Nabi Muhammad SAW) ”.
Akhirnya pada malam ke 480 setelah kejadian pemindahan kiblat umat Islam dari masjidil haram ke Baitul Maqdis, Allah menurunkan wahyu yang isinya tentang pegembalian kiblat umat Islam ke masjidil haram.
Dari hikayat diatas dapat kita simpulkan bahwa Harapan Nabi Muhammad Allah pernah tidak di kabulkan Allah secara langsung. Hal ini dikarenakan Allah SWT lebih mengetahui apa yang pantas dan baik bagi kekasih-Nya.[5]
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Islam adalah agama yang haq dan diridhai Allah SWT, diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW yang dipilih sebagai rasul-Nya yang terakhir. Ajaran atau petunjuk Allah SWT yang disebut agama Islam itu, terhimpun secara lengkap dan sempurna di dalam Al-Quran sebagai mana difirmankan melalui surat Ali Imran ayat 138 yang artinya sebagai berikut: “Al-Quran itu adalah penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Harapan dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita, keinginan, penantian, kerinduan supaya sesuatu terjadi, Didalam menatikan adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan, manusia melibatkan manusia lain atau kekuatan lain di dirinya supaya  terjadi sesuatu, selain hasil usahanya yang telah dilakukan dan ditunggu hasilnya. Jadi, yang diharapkan itu adalah hasil jerih payah dirinya dan bantuan kekuatan lain.
Harapan merupakan bagian dari fitrah manusia yang tidak mungkin ditinggalkan oleh setiap manusia. Orang yang tidak mempunyai suatu harapan  pada hakekatnya adalah manusia yang mati, mengingat harapan merupakan titik awal manusia untuk selalu berkembang menuju kehidupan yang lebih baik.
Islam sendiri menganjurkan manusia untuk selalu berharap, namun dalam islam yang dimaksud berharap yaitu berharap pada kemurahan Allah SWT, mengingat Allah SWT adalah tuhan yang maha kuasa atas segalanya.


DAFTAR PUSTAKA
http://muslim.or.id/aqidah/agama-islam.html
Dr. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Budaya Dasar, Bandung : PT Refika Aditama 2007, hal.106-107
http://www.himmaba.com/2013/04/pandangan-islam-mengenai-harapan.html

 

[1] http://muslim.or.id/aqidah/agama-islam.html
[2] Dr. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Budaya Dasar, Bandung : PT Refika Aditama 2007, hal.106-107
[3] http://www.himmaba.com/2013/04/pandangan-islam-mengenai-harapan.html
[4] Dr. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Budaya Dasar, Bandung : PT Refika Aditama 2007, hal 107
[5] http://www.himmaba.com/2013/04/pandangan-islam-mengenai-harapan.html

Hadis Relisasi Iman dalam kehidupan sosial


BAB I
PENDAHULUAN

Sudah menjadi keyakinan bahwa sumber utama syari’at Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadist. Selain yang telah di tegaskan al-Qur’an sendiri, juga dalam berbagai hadis Rasulullah menuntun agar umat islam berpegang teguh kepada ke dua sumber tersebut.
Sejalan dengan perkembangan waktu, umat manusia juga menghadapi berbagai permasalahan yang harus di sikapi dan di jalankan dengan baik. Maka bagi umat islam, permasalahan yang timbul kapan dan di manapun maka harus di kembalikan kepada pegangan hidup mereka yang telah di tetapkan, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Dan oleh sebab itu, kami sebagai pemakalah ingin memaparkan apa-apa saja sikap yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita. begitupun dalam kehidupan sehari-hari karna sesungguhnya begitu banyak penerapan- penerapan hadis yang di ajarkan Rasullullah . kita sebagai umat muslim patut untuk mencontoh jejak-jejak rasullullah Saw, dan dengan begitu maka kita pantas di katakan sebagai umat Nabi saw.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Realisasi Iman Dalam Kehidupan Sosial
1.      Hadis cinta sesama muslim
a.       Dari Anas bin Malik r.a  dari Nabi saw  yang bersabda:
لاَ يُؤ منُ أَحَدُ كُمْ حَتّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.[1] ( روا ه البخا رى و مسلم )

Artinya: “Salah seorang dari kalian tidak beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya ” ( Di riwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Redaksi Muslim sebagai berikut:

لاَ يُؤْ مِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّي يُحِبَّ لِجَارَهِ أَوْ لِأَ خِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه                                              

Artinya: “Tidaklah beriman di antara kalian hingga ia mencintai untuk tetangganya atau saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”

لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ الإِيْمَا نِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ .                                    

Artinya : “seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman hingga ia    mencintai kebaikan untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya sendiri.[2]”(di riwayatkan Imam Ahmad)

b.      Tinjauan Bahasa
Mencintai merupakan masdarnya dari                     يُحِب         :    
(الْمَحَبَّةُ ), sering digunakan yang berarti : kecenderungan terhadap sesuatu yang ada pada orang yang di cintai
Saudara, tetapi maksud saudara pada hadis di atas adalah saudara seiman dan seislam.
c.       Makna Hadits secara umum
            Di antara sifat iman yang wajib ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
            Namun dengan demikian, hadits tersebut bukan berarti dapat di artikan bahwa seorang mukmin yang tidak mencintai mukmin lainnya dapat di katakan juga tidak beriman. Karena maksud pernyataanلاَ يُؤْ مِنُ أَ حَدُ كُمْ  pada hadis di atas “ tidak sempurna keimanan seseorang,” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Jadi, huruf nafi لاَ  pada hadis tersebut berhubungan dengan ketidaksempurnaan.
            Dalam hadits lain juga ada menyebutkan betapa pentingnya memiliki sifat tersebut, bahkan Nabi saw menomerkan masuk surga bagi orang yang memilikinya. Sebagaimana dalam hadis berikut ini:
عَنْ اَنَس رَضيَ ا اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  قَا لَ : ثَلاَ ث مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَ وَ ةَ ا لإِ يمَا نِ :
أَنْ يَكُوْ نَ اللهُ وَرَسُول لهُ أَ حَبَّ إلَيهِ مِمَّا سِوَا هُمَا , وَ اَنْ يُحِبُّهُ إلأَ  للهِ, وَاَنْ يَكْرَ هَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْر كَمَا يَكْرهُ
 أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.                                                                                                       
Artinya: DiriwayatkandariAnasr.a.: Nabi Saw. Pernah bersabda, “siapapun yang memiliki tiga kualitas berikut akan memperoleh kelezatan iman:
1.      Orang yang mencintai Allah AzzaWaJalla dan Rasul-nya (Muhammad Saw) melebihiapapun.
2.      Orang yang mencintai orang lainsemata-matakarena Allah swt.
3.      Orang yang membenci kekafiran sebagaimana ia membenci dimasukkan kedalam api neraka.[3]
Imam Ahmad meriwayatkan Hadits dari Muadz bin Jabal bahwa ia bertanya kepada Nabi saw  tentang iman yang paling utama kemudian beliau bersabda,“Iman yang paling utama ialah engkau mencintai dan membenci karena Allah dan menggunakan lidahmu dalam dzikir kepada Allah.” Muadz bin Jabal berkata “Apa lagi, wahai Rasullullah?” Rasullullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “ Engkau cintai untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu, membenci untuk mereka apa yang engkau benci untuk dirimu, dan berkata dengan benar, atau diam.”[4]
            Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan hadis dari yazid bin Asad Al-Qasri yang berkata, Rasullullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam berkata kepadaku,“ Apakah engkau ingin masuk surga?” Aku menjawab, “ya” Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, “Cintailah untuk saudaramu apa yang engkau cintai untuk dirimu.”[5]
d.      Fiqh Al-Hadits
Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin adalah mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu direalisasikan dalam kehidupannya sehari-hari dengan berusaha untuk menolong dan merasakan kesusahan maupun kebahagiaan saudaranya seiman yang di dasarkan atas keimanan yang teguh kepada Allah swt. Dia tidak berpikir panjang untuk menolong saudaranya sekalipun sesuatu yang diperlukan saudaranya benda yang paling ia cintai.
2.      Hadits muslim tidak mengganggu orang lain
a.       Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  . قَا ل : الْمُسلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ ,وَ الْمُهَا جِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ .
Artinya: “Abdullah Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda[6] “ seorang muslim adalah yang orang musim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangannya dan orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah dilarang Allah Swt.” ( H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa’i )[7]
            Di riwayatkan dari Rasulullah, beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling baik itu?” Beliau menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan perbuatan tangannya.’
Selain hadis yang di atas terdapat pula riwayat lain dari jabir, Abu Musa dan Abdullah bin Amru.
Artinya: Ibrahim bin Sa’id Al-Jauhari menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Buraidah bin Abdullah bin Abu Burdah, dari kakeknya, Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwasanya Nabi saw pernah ditanya, “kaum muslimin mana yang paling afdhal?” beliau menjawab, “ yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”[8]

Shahih: Muttafaq alaih
b.      Tinjauan Bahasa
Menyelamatkan سَلِمَ  :                                     
Berpindah      هَجَرَ :                                                
Melarang نَهَى :                                                 
c.       Makna hadits secara umum
Hadits di atas mengandung dua pokok pembahasan, yakni tentang hakikat seorang muslim , dalam membina hubungan sesama muslim dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menjelaskan hakikat hijrah dalam pandangan islam.
Orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat telah tergolong muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak di sukai olehnya.
Dengan tidak mengganggu orang lain juga merupakan bentuk berakhlak mulia dan merupakan perbuatan iman yang paling utama, yaitu dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagaimana ada hadis yang diriwayatkan oleh An-Nawwas bin Sam’an Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُق. وَالإِثْمُ مَاحَاكَ فِي صَدْركَ وَ كَرِهْتَ أَنْ يَطَّلعَ عَلَيْهِ النَّا سُ
           
Artinya :“Kebaikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah apa saja yang menggoncangkan jiwamu dan engkau tidak suka manusia melihatnya.” (Diriwayatkan Muslim)
            Terkadang yang di maksud dengan akhlak yang baik adalah berakhlak dengan akhlak syari’at dan beretika dengan etika-etika Allah di mana dia mendidik hamba-hamba-nya denganya di Al-Qu’an seperti yang di firmankan Allah:
وَ اِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمٍ    
Artinya :“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4)
Aisyah Radhiallahu Anha berkata, “ Akhlak Nabi Saw adalah A-Qur’an.” Maksudnya, Nabi S.a.w. beretika dengan etika-etika Al-Qur’an kemudian mengerjakan apa saja yang diperintahkan Al-Qur’an dan menjauhi apa saja yang di larangnya[9]. Jadi, mengamalkan Al-Qur’an itu seperti akhlak layaknya watak yang tidak terpisahkan. Ini termaksud akhlak yang paling mulia dan paling indah.
Oleh karena itu, Allah menamakan apa saja yang ia perintahkan sebagai kebaikan dan apa saja yang menjadi larangannya  sebagai kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya Allah menyuruhku berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (An-Nahl: 90).
Allah juga menjelaskan bahwa hati kaum mukminin tentram dengan dzikir kepada-Nya.[10] Jadi, hati yang di masuki cahaya iman dan senang dengannya itu tentram dengan kebenaran, damai dengannya, menerimanya, lari dari kebathilan, membencinya dan tidak menerimanya.
Hijrah juga dapat diartikan sebagai perjalanan panjang untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dapat juga diartikan sebagai perjalanan panjang untuk mendapatkan Ridhanya. Dan untuk menempuh suatu perjalanan maka di perlukan bekal yang cukup. Bekal tersebut dalam islam adalah aqidah yang kuat.[11]
d.      Fiqh Al-Hadis
Di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah tidak mau menyakiti saudaranya seiman. Selain itu, ia juga berusaha untuk berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada perbuatan-perbuatan yang di Ridhai-nya.
3.      Hadits menghadapi tamu, tetangga dan cara bertutur kata
a.       Dari Abu Hurairah R.a dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam yang bersabda:
     
عَن أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عنه اَنْهُ قَا ل : قَال رَسُولُ اللهِ صلي الله عَلَيه وَسَلَمْ : مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَلْيُكْرمْ ضَيْفَهُ , وَ مَنْ كَا نَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَاْليَوْ مِ اْلأ خِرِفَليُحْسِنْ اِلَى إِلَى جَارِهِ , وَ مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا اللهِ وَ اْليَوْمِ الأَ خِرِ فَلْيَقُلْ خَيْر. ( اَخْرَجَهُ الشَّيْخَان وابن مَاجَه )                                

Artinya: Dari abu Huraira r.a. Ia berkata bahwa Rasulullah Saw. Bersabda,“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus memuliakan tamunya, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus berbuat baik kepada tetangganya, Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ia harus berkata baik atau diam.(H.R, Bukhari dan Muslim dan Ibnu Majah).
            Hadits di atas diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari banyak jalur dari Abu Hurairah. Di sebagian redaksinya disebutkan, “maka ia jangan menyakiti tetangganya. ”Di sebagian redaksi lainnya disebutkan[12], “hendaklah ia baik dalam memuliakan tamunya.” Di sebagian redaksinya yang lain disebutkan, “hendaklah ia menyambung kerabatnya,” menggantikan penyebutan tetangga.
b. Tinjauan Bahasa
                        Memuliakan يُكْرِ م        :                            
                        Tamu     ضَيْفٌ        :                                        
                        Membuat kebaikan  يُحْسِنُ       :                    
                        Tetanggaجَا رٌ       :                                     
                        Diam (tidak berbicara)يُصْمِتُ     :                
c. Makna hadits secara umum
Dari hadis yang pertama di atas, itu dapat kita simpulkan ada tiga perkara yang dapat kita simpulkan yang di dasarkan keimanan kepada Allah dan hari akhir, yakni memuliakan tamu, memuliakan tetangga dan berbicara baik atau diam.
1.      Memuliakan tamu
Dalam maksud memuliakan tamu dalam hadis di atas baik perseorangan maupun kelompok tentu saja harus berdasarkan kemampuan dan bukan riya’.
Di antara hal-hal yang harus di perhatikan dalam memuliakan tamu adalah memberikan sambutan yang hangat. Ini lebih baik dari pada di berikan hidangan yang mahal-mahal, tetapi dengan muka yang kasam atau kecut.
Apabila tamu yang datang hanya bermaksud meminta tolong tentang suatu masalah atau kesulitan, maka bantulah semampu yang kita bisa.
2.      Memuliakan tetangga
Maksud tetangga di sini itu umum, baik yang dekat maupun jauh, muslim, kafir, ahli ibadah, musuh dan lain-lain. Namun demikian dalam memuliakan mereka, terdapat tingkatan antara antara satu tetangga dengan yang lainnya.
Selain itu di haruskan pula menjaga mereka dari ancaman gangguan dan bahaya.
Sebagaimana dalam hadits:
عَنْ أَ بِي شُرَيْحِ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ قَا لَ : إِنَّ النَّبِيِّ ِ صلى الله عليه وسلم  قَا لَ : (وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ , وَ اللهِ لاَ يُؤْ مِنُ , وَاللهِ لاَ يُؤْ مِنُ ). قِيْلَ : وَ مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَا لَ : ( الَّذِ ي لاَ يَأ مَنُ جَا رُهُ بَوَا ئقَهُ ).                          
Artinya: Diriwayatkan dari Abu syuraih r.a,: Nabi Saw . pernah bersabda, “Demi Allah! Dia tidak beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman! Demi Allah! Dia tidak beriman!” seseorang bertanya, “ siapa ya Rasulullah?” Nabi Saw. Bersabda “ Orang yang membuat tetangganya merasa tidak aman dari kejahatan-nya.” [13]
Dalam hadits lainnya yang di riwayatkan oleh Aisyah.
عَنْ عَا ئَشَةَ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهَا , عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  قَا لَ : (مَا زَالَ جِبْر يْلُ يُو صِينِي بِالجَا رِ  حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَ رِّث
Artinya: Di riwayatkan dari Aisyah r.a,: Nabi Saw pernah bersabda, “ jibril menganjurkan aku bersikap baik terhadap tetangga sedemikian rupa sehingga aku berpikir dia menyuruhku menjadikan mereka sebagai ahli warisku.          
Di antara akhlak terpenting terpentng terhadap tetangga adalah:
1.      Menyampaikan ucapan selamat ketika tetangga sedang bahagia
2.      Menjenguknya takkala sakit
3.      Bertakziah ketika ada keluarganya yang meninggal
4.      Menolongnya ketika ia memohon pertolongan
5.      Memberikan nasehat dalam beberapa urusan dengan yang cara yang ma’ruf.[14]
3.      Berbicara baik atau diam
Perbuatan-perbuatan iman terkadang terkait dengan hak-hak Allah, seperti mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang di haramkan.Termasuk dalamcakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang baikdan diam dari yang jelek.[15]
Di sebutkan dalam hadits bahwa lidah yang lurus termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad[16] dari Anas bin Malik r.a dari Nabi Saw bersabda :
“Iman seseorang tidak lurus hingga hatinya lurus dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”[17]
Dalam sabda Nabi Saw, “hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam,” adalah perintah untuk berkata baik dan diam dari keburukan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perkataan yang sama kalau di ucapkan dan tidak di ucapkan. Namun bisa jadi perkataan itu baik, karenanya, diperintahkan di ucapkan. Dan bisa jadi, perkataa itu tidak baik, karenanya, di perintahkan tidak di ucapkan.
d.      Fiqh Al-Hadis
Untuk kesempurnaan iman dan sebagai salah satu tanda keimanan kepada Allah Swt, dan hari akhir, seorang mukmin harus memuliakan tetangga, tamu,dan berkata baik atau diam.     
B.      Kesimpulan
1.      Di antara sifat iman yang wajib ialah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, imannya berkurang.
2.      Di riwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau pernah ditanya, “ muslim yang seperti apa yang paling baik itu?” Beliau menjawab, “orang yang dapat membuat kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan perbuatan tangannya.’
Untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai atau tidak di sukai olehnya. Selain itu, ia juga berusaha untuk berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatan-perbuatan yang di larang Allah kepada perbuatan-perbuatan yang di Ridhai-nya.
3.      Termasuk dalam cakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang baik dan diam dari yang jelek.[18]
      Di sebutkan dalam hadis bahwa lidah yang lurus termaksud dari sifat iman, seperti yang di sebutkan di Al-Musnad dari Anas bin Malik r.a dari Nabi saw yang bersabda :
“Iman seseorang tidak lurus hingga hatinya lurus dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus.”
  

DAFTAR PUSTAKA

Az-Zabidi,Imam. Mukhtasar Shahih Bukhari,  Selangor Malaysia: PERCETAKAN               ZAFAR, 2004.
Nashiruddin Al-Albani,Muhammad. Shahih Sunan Tirmidzi, Jakarta: Puataka Azzam,
            2007.
Rajab,Ibnu. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-  Nawawi.  Jakarta: Darul Falah, 2002.
Syafe’i,Rachmat. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum,(Bandung: Pustaka Setia, 2000



[1] .Di riwayatkan al-Bukhari  hadist Nomor: 13, Muslim Nomor: 45, Imam Ahmad 2/176, 251, 272, 289, at-Tarmizi Hadis Nomor: 5215, Ibnu Majah hadist Nomor:66, dan an-Nasa`I 8/115, Hadist tersebut di shahihkan Ibu Hibban Hadist Nomor:234 dan 235.
[2]  Dari Abu Hurairah, Hadist tersebut di riwayatkan Imam Ahmad 2/376, Al-Bukhari hadist nomor:2475, dan Muslim hadist no 57.
[3]Imam Az-Zabidi. Mukhtasar Shahih Bukhari, (Selangor Malaysia: PERCETAKAN ZAFAR, 2004). Hlm. 12-13.

[4]Diriwayatkan Imam Ahmad 5/247 dan di sanadnya terdapat Zuban bin Faid dan Ibnu Lahi’ah yang keduanya merupakan perawi dhaif
[5]Diriwayatkan Imam Ahmad di al-Musnad 4/70. Hadis tersebut juga diriwayatkan Al-Hakim 4/168 dan menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadis tersebut mempunyai penguat yaitu hadis Abu Hurairah yang di riwayatkan Imam Ahmad 2/310 dan At-Tirmidzi hadis nomer 2305.
[6] Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum


[8]Muhammad  Nashiruddin Al-Albani. Shahih Sunan Tirmidzi, (Jakarta: Puataka Azzam, 2007).hlm. 64-65.
[9] Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi . ( Jakarta: Darul Falah, 2002 ).Hlm. 588-589

[10] Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum., hlm.44.


[12] Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum., hlm.45.
[13]Imam Az-Zabidi. Mukhtasar Shahih Bukhari .Hlm. 849-850.
[14]Rachmat Syafe’i. AL-HADIS, , Aqidah Akhlak, sosial dan Hukum. Hlm.48-49
[15]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.
[16] Al-Musnad 3/198, di sanadnya terdapat perawi Ali bin Maidah yang merupakan perawi dhaif.
[17]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi. Hlm.291.
[18]Ibnu Rajab. PANDUAN ILMU &  HIKMAH, Syarah Lengkap Al-Arbain- An-Nawawi., hlm. 289-290.